CERPEN

Penantian 24 Purnama

Foto / Hanya Sekedar Ilustrasi

 

Cerpen Karya : Ceng Ahmar Syamsi

 

Senja mulai melenyapkan matahari ke balik barisan perbukitan menghijau. Sekaligus menyadarkan beberapa petani yang masih betah membenamkan kakinya di sawah, untuk segera pulang. Mereka berjalan beriringan di tegalan. Sementara di kanan-kirinya hamparan padi yang menguning terlihat berkilauan di terpa cahaya senja.

Selama kurang lebih tiga bulan menyemai harapan di sawah yang luas, mungkin hanya tinggal menghitung hari, mereka akan segera mengangkut hasilnya. Harapan sederhana dari lubuk hati para petani itu. Mereka ingin panen yang melimpah. Meningkahi kepulangan mereka, sekawanan burung blekok pun mengakhiri petualangannya sore itu. Mereka juga memiliki tujuan yang sama, yaitu pulang.

Seorang lelaki muda berpeci menyaksikan semua itu dari beranda mushola. Bangunan sederhana yang dibuat di atas tanah lumayan berbukit, sehingga menempatkannya terlihat paling menonjol di antara rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Menandakan bahwa bangunan tersebut memiliki arti tersendiri dan teramat penting keberadaaannya.
Meski tak berkubah karena memang bukan mesjid, ciri lain dari bangunan ini adalah lafadz Allah menancap di puncak atapnya yang mengerucut.

Sudah hampir setengah jam lelaki itu berdiri di sana.
Senja semakin jelas. Matahari perlahan mulai tak nampak. Di sebelah barat sana barisan perbukitan selalu cepat menenggelamkannya. Ridwan, nama pemuda itu, mengedar pandang. Seperti sedang mencari sosok yang hilang.
Biasanya dia selalu datang mengantarkan adik bungsunya. Batin Ridwan berbisik. Meski setiap kali mereka bertemu jarang sekali ada sapa, namun ketidakdatangannya sore ini cukup membuat pemuda itu gundah gulana.
Inikah cinta?

Pemuda berhalis tebal itu memang tak pernah menyangkalnya. Bahkan dari dulu sekali. Saat ia baru menginjak kelas enam SD. Ketika cinta pada lawan jenis masih belum pantas untuk anak seusianya.
Dan rasa itu masih tetap ada hingga sekarang. Tumbuh dan berkembang.
Lalu kemana gadis itu sekarang?
Beberapa anak terdengar berteriak di halaman bawah. Ridwan tersenyum melihat mereka. Bayangan masa kecilnya di mushola ini mampir dalam benak. Gadis yang sore ini tak datang, saat itu mulai menarik perhatiannya.

***
“Mar, kalau nanti aku melamarmu, mau ya?” ucap Ridwan lirih.

Wajah yang di depannya itu menengadah. Seorang gadis muda bernama Maryam. Bibirnya terkatup.

Kedua alis ridwan terangkat. Maksudnya meminta jawaban.

“Aku serius Mar!” nada suara Ridwan bertambah satu oktaf. Kalau saja berani, ia ingin mendekap tangan Maryam. Agar gadis itu yakin, kalau ucapannya bukan omong kosong. Tapi tentunya ia tak berani dan tak akan pernah memberanikan diri.

Sore itu, seperti biasa Maryam hendak menjemput Marini, adik bungsunya yang mengaji di mushola itu. Hampir setiap sore ia mengantar-jemput adiknya ke sana. Bahkan kalau rewelnya lagi kumat, tak cukup diantar-jemput saja, mengajinya pun harus ditunggui pula hingga pengajian usai.

Tapi sore itu, Maryam sepertinya sia-sia saja menjemput Marini ke mushola. Karena dia ternyata sudah pulang bersama teman-temannya.

“Ah dasar Marini. Kalau tidak dijemput nanti ngambek. Suka ngancam-ngancam tidak mau ngaji lagi” Maryam menggerutu seorang diri, sebelum akhirnya Ridwan memanggil lalu menahannya pergi.
Maryam tak menjawab. Ia malah siap-siap menarik langkahnya.

“Jawab, Mar!” desak Ridwan. Hampir saja ia memegang tangan Maryam, kalau saja gadis berjilbab ungu itu tak lebih dulu mengibaskannya.

Maryam kini menggeleng. Maksudnya apa, ia pun tak mengerti. Entah menolak ataukah sementara menghindar. Selain sangat mendesak, ajakan Ridwan pun dianggapnya terlalu terburu-buru.

“Kamu tidak mau?” tanya Ridwan tegas.

“Kang…Mar ini orang tidak punya. Apalagi sejak bapak meninggal. Emak yang pontang-panting buat menutupi kebutuhan sehari-hari”

“Maksud kamu apa, Mar?”

“Kang, Mar ini anak pertama. Di bawah Mar masih ada dua adik yang sedang butuh biaya. Malik tahun depan masuk SMP. Sementara Marini akan masuk SD. Mar harus bantu Emak, Kang. Mar enggak tega lihat Emak”

“Bukanlah jika kita menikah, beban Emakmu akan sedikit berkurang? Mungkin nanti aku bisa menghidupi keluargamu. Bahkan menyekolahkan adik-adikmu. Insya Allah aku siap, Mar”
Maryam tak menggubris.

 

Malah ia membuang muka ke arah lain. Omongannya barusan meski tak lantang, tapi mampu menghasilkan butiran-butiran bening yang meluncur dengan sekali kejapan saja.

“Mar, tolong untuk kali ini saja kamu harus percaya. Aku tidak sedang main-main” tukas Ridwan.

Maryam menyeka air matanya.
“Emak belum tentu mengizinkan, Kang”
“Emakmu yang belum tentu mengizinkan atau kamu yang tidak mau, Mar?” Ridwan tahu gadis yang ada di hadapannya itu hanya beralibi.

Maryam kembali membisu. Ia mencoba menyelami perasaannya sendiri. Bagaimana posisi pemuda itu di hatinya selama ini. Adakah tempat khusus untuk Ridwan? Pemuda yang sejak masih SD sudah memperlihatkan ketertarikannya.
Gadis itu tahu soal ketulusan Ridwan. Tapi bayang-bayang semu selalu mampir tatkala membayangkan dirinya bersanding dengan lelaki berbadan tinggi itu. Ridwan adalah anak bungsu dari keluarga berada di kampungnya. Sementara ia hanyalah seorang gadis yang sudah tidak memiliki bapak. Miskin pula.

Maka, ia selalu tak memberanikan diri membayangkan kebersamaan dengan pemuda bernama Ridwan. Apalagi sampai bersanding dengannya. Namun jika bicara cinta, ia pun tak berani menyangkal.
Terlalu naif, bahkan munafik jika ia tak mengakuinya.

Maryam mencari jawaban yang paling tepat. Jujur, ia bukan hendak menolak. Tapi untuk saat ini, ia sedang tidak ingin membicarakan hal tersebut. Karena justru ada ganjalan lain yang membuatnya tidak berani menerima pemuda itu.

“Apa kata orang jika aku menikah dengan Kang Ridwan?”
“Apa peduli mereka? Kamu harus tahu, Mar. Kedua orang tuaku saja sudah menyetujui jika aku menikahimu”
Benarkah???
“Tapi, Kang……”
“Apa perlu aku datang………”
“Aku mau ke Saudi, Kang” Maryam menyerobot kalimat Ridwan.

Seketika Ridwan mengejar arah pandangan Maryam. Pemuda itu berharap apa yang didengarnya salah atau barangkali hanya lelucon yang dibuat Mar, agar dirinya tak memaksa mengajaknya menikah.

“Aku mau jadi TKW saja…….” lanjutnya mantap. Inilah ganjalan mengapa ia tidak langsung menerima pemuda yang kini menatapnya tajam.

Pemuda yang memakai sarung dengan motif garis biru itu terperangah.
“Apa? Ke Saudi?” Gadis berkelopak besar itu mengangguk perlahan.

Ini bukan alasan biasa. Apalagi lelucon. Seriuskah gadisnya itu?
“Buat apa kamu pergi ke sana, Mar?” tanya Ridwan. Ia selalu tak bisa menahan emosi suaranya. Bertambah lagi setengah oktaf.

“Daripada Emak yang harus ke sana…….”
“Tidak ada cara lain?”
“Tidak…….”
“Termasuk menikah denganku itu bukan pilihan?”
Maryam menggeleng.
“Tapi Mar. Kamu tidak lihat berita di tivi-tivi. Banyak pegawai-pegawai di sana yang disiksa, diperkosa majikannya, gaji tidak dibayar………” Ridwan mencoba memaparkan konsekuensi. Siapa tahu gadisnya bisa berpikir dua-tiga kali lagi untuk pergi ke sana.

Maryam tetap tak bergeming.
“Bahkan ada yang saat pulang ke tanah air sudah menjadi bangkai. Yang lebih parah lagi ada yang cuma tinggal……..” Ridwan bukan sedang menakut-nakuti. Apa yang diutarakannya itu realita. Dan gadisnya harus tahu.

“Saya tahu, kang. Tapi nasib orang berbeda-beda” sanggah Maryam. “Kalau tidak ada halangan Insya Allah lusa Mar berangkat ke Jakarta. Aku minta Do’anya , kang. Permisi……..Assalamualaikum.” Maryam buru-buru menarik diri sebelum Ridwan kembali menahannya.
Ridwan hanya mampu berdiri mematung. Tak menyadari kalau Maryam sudah beranjak dari hadapannya.

“Aku akan tetap menunggumu, Mar. Sampai kamu pulang dari Saudi” ujar Ridwan setengah berteriak. Sementara Maryam dilihatnya berlari-lari di antara jalan yang masih berbatu dan semakin menjauh, lalu menghilang ditikungan jalan.

Ah, Mar. Ada apa dengan kamu? Tidakkah kamu menghargai keberanianku hari ini? Andai gadisnya tahu betapa butuh waktu yang sangat lama untuk bisa mengungkapkan semua ini. Tapi apa? Jawabannya tak sesuai harapan.
Mar tak menolak. Tapi juga tak mengiyakannya.

Dan terus terang saja. Itu menyiksa.
Senja merambat gelap. Di ufuk barat kini nampak semburat merah yang membekas. Maghrib hampir tiba. Dengan hati yang tidak menentu. Ridwan bergegas masuk ke Mushola. Siap melantangkan seruannya. Saatnya ia mengadu kembali pada Robbnya.
Kali ini soal Maryam dan harapannya ke negeri orang.
***

Pagi itu Ridwan berdiri mematung di teras mushola. Bukan sedang memerhatikan murid-muridnya kerja bakti di halaman mushola. Bukan pula sedang menyaksikan kesibukan petani di sawah. Padahal kalau ia ingin melirik sedikit saja, ada banyak hal yang harus ia amati daripada hanya sekedar berdiri di tempatnya sekarang. Terutama perubahan jalan di depan mushola yang dulu berbatu, kini terlihat mulus mengkilat dibalur aspal. Belum lagi, teknologi yang kian merambah pedesaan. Terbukti dua menara transmisi ditanam di desanya.
Tapi ia sedang tidak ingin mengamati semua itu.

Kalau pun dirinya merasakan ada perubahan. Ia hanya merasakan kehilangan sosok Maryam yang biasanya selalu dijumpai setiap sore. Sudah satu tahun Maryam meninggalkan tanah kelahirannya. Membawa asa dan harapan sederhananya ke negeri orang.
Tiga buah amplop digenggamnya. Satu amplop sebelum Mar pergi ke Jakarta. Sementara dua amplop lagi dikirim Mar dari Saudi khusus untuknya. Isi dari amplop itu hampir sama, surat yang berisi permohonan dan permintaan agar Ridwan menjaga Emak dan adik-adiknya.

Dalam balasan suratnya, Ridwan pun sempat menuliskan nomor handphonenya. Agar Mar bisa menghubungi Emaknya kapan saja. Tidak harus melalui ponsel Pak lurah yang rumahnya lumayan jauh dari rumah Emaknya.

Dan Alhamdulillah, Mar pernah menghubunginya dua kali. Selain itu, Mar juga sudah tiga kali mengirimi Emaknya uang. Tentunya hal itu membuat Emak dan adik-adiknya senang bukan kepalang.
Tapi itu enam bulan yang lalu. Di enam bulan berikutnya dan sampai saat ini Maryam bak ditelan bumi. Jangankan mendengar suaranya bercakap-cakap, walaupun cuma di telepon. Dulu ia pernah bilang kalau majikannya itu memberi jatah sebulan sekali untuk menelepon keluarganya di tanah air. Ridwan pernah mencoba menghubungi nomor telepon yang biasa dipakai Gadisnya menelepon, tapi tak pernah aktif. Akhirnya bersamaan dengan itu, selembar surat pun tak kunjung datang.

“Aneh……” tutur Ridwan. “Kenapa Maryam? Ada apa dengan dia?” tak hanya benak Ridwan yang mulai diliputi perasaan khawatir. Terlebih Emaknya yang sering menangis akhir-akhir ini, saat Ridwan bertandang ke rumahnya. Bahkan Pak Lurah ikut pula dibuat gusar. Takut kalau salah satu warganya itu tersandung masalah di tanah Nabi.
Pasrah? Entahlah.
Ridwan melirik tajam pada tiga amplop yang semakin erat digenggamnya.
***

Inilah fase yang tidak diinginkan. Sangat jauh dari harapan. Mungkin hal seperti ini tak pernah mampir di benak Emaknya. Mungkin juga Maryam, atau siapa pun itu. Maryam hanya gadis desa tamatan SMP yang polos. Berbekal tekad lengkap dengan impiannya. Ia berharap bisa membawa cerita manis saat pulang nanti. Membangun dan menyusun impian sederhana ala orang-orang desa.
Kelak dari hasil perjuangannya di negeri orang itu, ia ingin membangun rumah besar, membeli sawah dan menyekolahkan adik-adiknya serta membuat perempuan terkasihnya bahagia.
Sudah saatnya Emak bahagia.
Tapi……….
Salahkah dengan impian Maryam? Terlalu tinggikah asa dan harapannya?
Ah, andai Mar mau menerima pinangannya. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Dari dulu gadisnya itu memang selalu dingin. Berapa jumlah surat yang sudah Ridwan kirimkan padanya? Tak ada satu pun yang dibalas. Dia hanya menitipkan terima kasih, kalau anak muda itu memberinya hadiah.
Atau jangan-jangan ia memang tak pernah membaca suratnya?
Dibuangkah surat-suratnya itu?
Tapi kenapa Maryam mau menerima hadiah darinya?

Apa dia hanya tertarik dengan dengan pemberiannya saja, dan tak pernah peduli dengan perasaannya saat itu? Atau bahkan hingga sekarang?
Padahal Ridwan sudah berusaha tidak sepengecut dulu. Setidaknya dalam menegur atau bertanya hal lain saat mereka bertemu di mushola, dia sudah cukup memiliki keberanian. Tapi begitulah Maryam. Ia masih tetap dingin.
Tidakkah ia memiliki kepekaan atas sikapnya selama ini? Tidakkah ia melihat gelagat jatuh cinta darinya? Ridwan tak bisa memaksa. Maryam adalah seorang perempuan. Memang tidak pantas bersikap agresif. Tapi justru itulah yang membuat pemuda itu kagum.

“Tapi persoalanya, apa benar Maryam tertimpa masalah di sana?” ujar Ridwan saat berkunjung kesekian kalinya ke rumah Maryam bersama Pak Lurah.
Emak menerima kedatangan dua tamunya dengan segenap perasaan yang tak menentu. Malah kini ia menangis.

“Apa mungkin Maryam minggat dari rumah majikannya yang dulu?” tebak Pak Lurah.
Ridwan bergeming. Ia benar-benar kalut.
“Atau jangan-jangan Maryam…….” lanjut Pak Lurah.

“Gusti Allah…..” Emak Maryam menunduk menahan tangis yang tak terbendung. Terlihat dari punduknya yang berguncang-guncang.
Pak lurah jadi serba salah. Lelaki setengah baya itu memang tak pandai menebak.
“Sudahlah Pak Lurah!! Jangan menebak yang tidak-tidak”
“Ng…ng…anu, maksud saya. Jangan-jangan Maryam itu mau bikin kejutan. Begitu maksud saya, Wan”
Kejutan? Ah sepertinya tidak mungkin. Jarak antara Majalengka dan saudi bukanlah jarak dekat yang bisa seenaknya dibikin lelucon. Jika itu benar, keterlaluan sekali Maryam.
Ah Mar, apa yang sebenarnya terjadi padamu?
***

“Sudah dua tahun Mar di Saudi. Tapi sampai saat ini masih tidak ada kabar. Sekalipun itu kabar angin. Kasihan, Mar. Bapaknya meninggal tragis di sungai. Masa Mar juga harus seperti itu”
“Istigfar, Mak. Kita di sini sudah berikhtiar dan berdoa. Kita doakan semoga Mar di sana baik-baik saja”

Itu obrolan terakhir Ridwan dengan Emaknya Maryam. Beberapa kali ia datang menemui perempuan itu, selalu ada urai air mata. Ia sendiri bingung harus berbuat apa lagi. Hanya doa yang mampu ia panjatkan sekarang untuk gadisnya. Seandainya waktu bisa diputar ulang dan Mar tahu kejadiannya akan begini, barangkali ia pun tak sudi berangkat ke Saudi.

Tapi semua itu diluar kuasa ia dan gadisnya. Takdir Tuhan, siapa yang dapat menyanggah. Selain doa, rasanya ikhtiar pun sudah sampai pada titik puncaknya. Dari semenjak hilang kontak, Ridwan tak tinggal diam. Dia rela menempuh jarak dan waktu, saat harus ke Jakarta menemui instansi-instansi yang biasa menangani permasalahan TKI di luar negeri. Namun hingga detik ini, belum ada kabar baik yang berhembus.

Satu hal yang selalu ia syukuri saat akan melangkahkan kaki ke Jakarta. Ia selalu pergi dengan restu kedua orang tuanya. Bersyukur memiliki keduanya yang dianugerahi hati malaikat.

Apa yang dilakukannya sekarang. Demi cintakah? Ridwan menggelengkan kepalanya. Untuk saat ini ia mencoba mengibaskan perasaan itu. Terlalu egois jika apa yang dilakukannya sekarang harus berbuah pamrih.

Tapi bukankah ia sendiri pernah bilang, kalau dirinya akan menanti Mar pulang dari Saudi untuk kemudian dilamarnya.
Mungkin jawabannya benar. Tapi sekarang persoalannya berbeda.
Dua puluh empat bulan sudah, Mar merantau di negeri orang. Tapi boro-boro hasil yang di kirim. Kabarnya pun tak pernah sampai. Hanya di enam bulan pertama Mar mengirimkan kabar dan uang. Dua puluh empat bulan Ridwan menantinya. Tapi kali ini, bukan karena ia ingin melamarnya, ketika Mar pulang nanti. Melainkan bisa mendengar kabarnya baik saja itu sudah cukup.
Ridwan menatap tajam matahari senja yang kian menghilang di barisan bukit.

 

Semenjak Mar pergi Ia lebih sering duduk berlama-lama di belakang mushola. Tidak seperti saat gadisnya masih ada. Ia justru betah menunggu Mar di beranda mushola.
Di sana, jauh di balik bukit itu, Mar sedang mengadu nasib. Andai ia bisa memohon. Ia ingin meminjam sebentar Buroq untuk ia gunakan ke negeri Nabi. Melihat sebentar keadaan Mar disana.
Baikkah ia?
Atau ia terbelit masalah?

“Wan, rupanya kamu di sini” suara seseorang mengagetkannya.
“Ng… eh, Abah. Iya, Bah. Kenapa?” sahut Ridwan gelagapan.
“Kamu belum tahu ya, kalau Mar sudah datang”
“Mar? Sudah datang? Maryam maksud Abah?” tanya pemuda itu tak yakin. Padahal baru saja khayalnya bermain-main menemui Mar.
“Iya…..”
“Kapan, Bah. Kok Malik dan Marini enggak cerita”
“Baru saja. Tapi dia bawa anak. Dua lagi. Anak kembar laki-laki” jelas Abah. Selalu dengan senyum.
“Maksud Abah???” Ridwan terperanjat.
“Sudahlah nanti saja ceritanya!!! Abah mau lihat ke sana. Kamu mau bareng atau………….”
“Iya, Bah. Ayo kita ke sana!!!” serobot Ridwan.

Mar sudah pulang? Alhamdulillah. Batin Ridwan bersbisik. Tapi kok dia bawa anak. Kenapa bawa anak? Bukan bawa duit sekarung. Seperti yang pernah di katakannya dulu, saat ia menelepon. Biar bisa menyekolahkan adik-adiknya, biar bisa membeli sawah, membangun rumah dan membahagiakan Emaknya.
Mar apa yang sebenarnya terjadi denganmu di saudi sana? Perlakuan apa yang kamu dapat dari majikanmu, Mar?
Mulut Ridwan berkomat-kamit. Pemuda itu bukan sedang merafal doa. Melainkan refleksi dari hatinya yang disesaki ribuan pertanyaan.
***

Ridwan masih betah memerhatikan bocah laki-laki kembar itu. Dengan senyum yang tetap mengembang, ia hendak menghampiri keduanya. Namun seorang wanita keluar dari dalam mushola membuat langkahnya tertahan.

“Umam dan Anam sudah besar ya, Mar? Sudah lima tahun” ujar Ridwan pada wanita itu.
Wanita itu tak menyahut. Ia hanya memandang lelaki di hadapannya dengan mata mengembun.
“Maafkan saya, kang” ujar Mar terisak.
“Mar, aku tidak bermaksud……” Ridwan berhenti berkata. Ia memegang kedua pundak istrinya.
Namun tangis Mar kian menjadi.
“Dengar, Mar! Umam dan Anam itu anak kita. Anak saya juga. Dan kamu, Mar. Kamu adalah istriku yang baik”
Ridwan mendekap tubuh Maryam. Meredakan guncangan pundak istrinya karena isak tangis.

*** Cerpen ini pernah dibukukan tahun 2015 dalam buku kumpulan cerpen “When I Miss You “.

Penulis, tinggal di Majalengka. Banyak karyanya telah terbit dan dibukukan.

Comment here