EKONOMI

Harapan Ribuan Buruh di Tengah Wabah, Menanti Usaha dan Bantuan Langsung

Harapan Ribuan Buruh di Tengah Wabah, Menanti Usaha dan Bantuan Langsung

MAJALENGKA – macakata.com – Bagaimana nasib ribuan buruh yang terkena situasi wabah pandemi Corona ini? Selain menanti gaji dan tunjangan hari raya yang belum jelas, para buruh pabrik ini, juga menanti jenis usaha yang akan menjadi penyambung hidupnya kelak.

Selain jenis usaha. Mereka berharap ada lowongan kerja kembali, yang sekiranya bisa menafkahi anggota keluarganya yang diam di rumah. Namun sebelum itu semua, di tengah kondisi dan situasi saat ini, yang gerak dan aktifitasnya dibatasi, di rumah saja, sudah pasti mereka pun butuh bantuan secara langsung.

Alasannya, dalam hitungan hari, tepatnya dua minggu lagi, Ramadhan akan tiba. Awal bulan suci itu, biasanya akan lebih banyak pengeluaran demi menyambut munggahan.

Salah seorang karyawan pabrik di wilayah Kecamatan Jatiwangi, sebut saja Inem (27 tahun, bukan nama sebenarnya) ‚Äémerasa khawatir dan selalu was-was. Keputusan manajernya yang telah merumahkan dirinya, beserta ratusan karyawan lain tidak diimbangi dengan gaji yang full.

“Gaji ditangguhkan, THR juga gak tau apakah akan keluar secepatnya atau tidak. Bingung bagi kami, menghadapi awal Ramadhan,” ujarnya, Sabtu, 11 April 2020.

Senada diungkapkan Iyem (26 tahun, bukan nama sebenarnya) yang baru saja di-PHK oleh perusahaannya, yang berada di wilayah Majalengka bagian utara. Aksi mogok kerja yang telah dilakukannya bersama para karyawan lain, pada Rabu lalu itu, adalah untuk menagih ketegasan pihak perusahaan.

“Ada perwakilan audiensi yang ikut ke dalam. Kata perusahaan memang sudah ada rencana pembayaran gaji dan THR, cuma dijadwalkan dan dibagi per-tahap.” ujarnya.

Baik iyem maupun Inem, merupakan contoh situasi karyawan yang di-rumahkan. Alias tak bekerja lagi di pabrik dan perusahaan yang selama ini menjadi tonggak penghasilannya. Iyem dan Inem memang masih bersuami, namun itupun sama-sama pas-pasan.

“Bingung ke depannya mau jualan apa? Usaha apa? Sementara untuk modal pun tidak ada.” ujar Iyem.

Mereka pun tidak berharap banyak kepada bantuan pemerintah. Meskipun dalam hati kecilnya, mereka sangat menginginkannya.

“Kalau terlalu berharap pada bantuan pemerintah, nanti pastinya, kalau gak dapat sakit hati, mas. Tapi memang, kami pun saat ini butuh bantuan langsung. Seperti bagi-bagi sembako, kalau ada kami pun mau.” ujar keduanya.

Ditanya tentang program pelatihan usaha dan peningktan SDM untuk menghadapi keuangannya di masa depan, mereka berdua sedikit ragu menjawabnya. Dua anaknya menjadi pertimbangan kerepotan untuk mengikuti program diklat jika ada kesempatan.

“Kalau pelatihan semacam itu repot juga kalau mengatur waktunya. Terus itukan semacam belajar lagi. Lalu kapan nyari uangnya?” Ungkapnya.

Sementara itu, pelaku UKM yang telah mengikuti diklat bulan Maret 2020 lalu, Mahdi mengatakan pihaknya merasa prihatin dengan kondisi buruh pabrik yang di-rumahkan. Ia berharap wabah pandemi ini cepat berlalu.

“Kepada yang di-rumahkan agar bersabar. Akan lebih baik jika mulai sekarang melatih diri menjalani usaha. Kalau memang ada pelatihan gratis dan berwawasan untuk menghasilkan. Ikuti saja. Itu sangat penting untuk kemampuan bertahan dan pengembangan diri.” Tandasnya. ( MC-02)

Comment here