BERITAGadgetsPENDIDIKAN

Pelajar Majalengka Sukses Buat Aplikasi Digital Learning Unggulan

Indisch Siap Dilounching se-Indonesia pada 15 Juni 2020 dan se-Dunia pada 15 Juli 2020. Alumni Dua Sekolah yakni SMKN 1 Kadipaten dan SMKN 1 Majalengka Berhasil Menciptakan Aplikasi Belajar Indisch

MAJALENGKA – macakata.com – Sebagian pelajar Majalengka, dua lulusan sekolah yakni SMKN 1 Kadipaten dan SMKN 1 Majalengka berhasil membuat aplikasi khusus belajar secara digital. Aplikasi tersebut bernama Indisch atau kepanjangan dari Indonesia Digital School.

Sebelumnya, anak-anak SMKN 1 Kadipaten ini yakni, Saepudin, Iis Aisyah, Sundari, Abdur Rohmat diterima kerja setelah seleksi ketat, yang akhirnya diterima di PT. Lemurian, yang kebetulan pemilik perusahaannya pun, merupakan kelahiran Majalengka, alumni SMAN 1 Majalengka.

Salah satu pembuat program aplikasi Indisch, Saepudin meminta doanya kepada semua guru bahwa sejak tanggal 16 Maret 2020, saat WFH dimulai, dirinya bersama 20 Lulusan SMK dan SMA dari Majalengka dan  Subang, menyelesaikan program Indisch, di Kantor PT. Lemurian Inovasi Teknologi.

“Kami membuat Social Media Digital Learning, yang 100% Free bisa digunakan oleh siapapun.  Rencananya aplikasi tersebut akan di launching pada 15 Juni 2020. Serta dilounching se-Indonesia pada 15 Juli 2020.” ujarnya, Kamis, 02 Juni 2020.

Saepudin menambahkan Pihaknya berharap, di tengah pandemi ini, masyarakat bisa mendapatkan akses pendidikan yang lebih luas. Semua sekolah, bisa mengelola program dan kelas mereka dengan lebih baik lagi.

“Guru bisa memiliki tools Online Learning yang lebih fleksible, serta materi pembelajaran yang lebih luas,” ungkapnya.

Sementara itu, CEO Lemurian Inovasi Teknologi yang menggagas Indisch, Dr. Dede Mulyana mengatakan saat ini kita semua sedang berada di era industri 4.0, yang menuntut penguasaan teknologi pada nyaris semua bidang.

Dunia pendidikan merupakan salah satu bidang yang paling harus tanggap, terhadap percepatan teknologi ini. Digital learning menjadi suatu keharusan.

Kenyataan ini diperkuat dengan adanya pandemi yang melanda dunia sejak akhir 2019 lalu, pandemi Covid-19. Dunia tak pernah bermimpi harus menunda semua aktivitasnya, demi memutus mata rantai penularan penyakit yang disebabkan virus ini.

“Stay at home, mengguncang ekonomi dunia, dan mengharuskan dunia pendidikan menjalankan digital learning, study at home.” ungkapnya.

Dede menambahkan, alhasil, berbagai platform digital learning dijajal oleh para pelaku pendidikan demi mencari yang paling murah, efisien dan paling cocok dengan karakter peserta didik dan juga wilayah, tentu, karena digital learning sangat terkorelasi erat dengan ketersediaan akses internet.

Adalah Indisch sebuah platform digital learning berbasis social media yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan nasional, PT. Lemurian Inovasi Teknologi, yang sangat berkomitmen untuk memberdayakan asset emas potensi anak bangsa agar bisa mendunia. Diawali dengan meluncurkan ESTEEM yang berhasil menyabet anugerah MURI Indonesia Dunia untuk kategori program komputer IT Service Management pertama di Indonesia.

“Kini Lemurian meluncurkan program Indisch sebagai bentuk kepedulian terhadap situasi pendidikan di Indonesia.” ungkapnya.

Dede menjelaskan, Indisch sendiri merupakan kependekan dari Indonesia Digital School. Awalnya, Indisch dibuat, karena adanya kebutuhan di masyarakat akan akses terhadap pendidikan yang mudah dan murah, bahkan gratis. Karena sebenarnya Indonesia ini memiliki sumber daya manusia yang unggul, dibandingkan negara lain. Baik dari segi jumlah maupun kualitas, hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa dan siswi Indonesia yang berprestasi dalam berbagai ajang olimpiade, dengan mengalahkan perwakilan dari negara-negara lain di dunia.

“Namun sayang akses terhadap pendidikan dan pembelajaran tidak merata. Sehingga perlu sebuah terobosan, dimana semua orang memiliki akses terhadap pendidikan dan pembelajaran yang mudah, murah bahkan gratis. Bahkan tidak hanya mendapat kesempatan belajar yang lebih luas, tetapi juga kesempatan mengajar yang terbuka bagi siapapun, baik pelajaran formal di sekolah, maupun pelajaran informal yang bersikat vokasi, softskills, motivasi maupun inspirasi yang dapat menggerakan Indonesia ke arah yang lebih baik di masa yang akan datang.” jelasnya.

Bukan tanpa alasan, Indisch dibuat. Indisch dibuat sebagai sebuah Platform Media Sosial, dimana setiap pembelajar dan pengajar bisa saling berinteraksi, berbagi video pembelajaran.

Indisch adalah gabungan dari media sosial, bisa membuat dan mengkonsumsi konten, sekaligus sharing dengan siapapun yang terkoneksi, tetapi dengan konten video yang lebih selektif. Dengan Indisch, maka peran guru dan dosen tidak tergantikan, karena mereka menjadi subject dalam pembelajaran, tidak digantikan oleh pemateri yang disediakan oleh provider aplikasi pendidikan.

Hal yang paling penting dari aplikasi Indisch adalah, 100% gratis, dimana setiap orang bisa membuat konten video pembelajaran sebagai publisher, membagikannya kepada para pembelajar atau subscriber dengan akses private, Subscribe maupun Public. Sehingga semua orang memiliki kesempatan belajar dan mengajar yang sama. Oleh karena itu, moto Indisch adalah Indonesia Belajar – Indonesia Mengajar.

“Sejak soft launching pada tanggal 4 Juni 2020, animo para pelaku pendidikan (baca guru dan dosen) di Indonesia sangat antusias. Training Batch 1,2 dan 3 diikuti oleh para guru dan dosen serta praktisi pendidikan dari Sabang sampai Merauke. Banyak institusi perguruan tinggi dan sekolah dari jenjang SD, SMP, dan SMA menggunakan Indisch sebagai aplikasi pembelajarannya.” tuturnya.

Bahkan hanya selang sekitar dua minggu sejak launching, di akhir Juni, IPDN telah menggunakan Indisch dalam menyelenggarakan proses pembelajaran daringnya, melayani para praja dari seluruh Indonesia. Keputusan IPDN menggunakan aplikasi belajar Indisch tentu tidak serta merta begitu saja, tetapi telah melalui berbagai pertimbangan untuk memperoleh aplikasi belajar terbaik yang cocok untuk digunakan oleh para praja sebagai siswa dan dosen selaku pendamping belajar. Sehingga hal ini, merupakan suatu kebanggaan bagi Indisch bisa digunakan di kampus favorit para pemuda pemudi pilihan dari seluruh tanah air. Indisch, produk 100% buatan Indonesia, karya anak SMA/SMK dari Majalengka dan Subang telah terbukti berkualitas dan memberi bukti atas potensi emas anak bangsa.

Dr. Dede Mulyana, yang merupakan alumni SMAN 1 Majalengka, telah berhasil mewujudkan ide cemerlangnya membuat aplikasi belajar gratis untuk pemerataan kesempatan memperoleh akses belajar di Indonesia. Beliau jeli melihat potensi emas anak-anak SMK dari daerah sehingga memberdayakan mereka dalam membuat produk-produk digital unggulan.

“Anak-anak alumni SMKN 1 Kadipaten dan SMKN 1 Majalengka terlibat dalam pembuatan aplikasi belajar yang unggul dan berkualitas ini. Kiranya, jargon “SMK Bisa!” bukan hanya sekedar jargon belaka, namun telah terimplementasi dalam karya nyata. Indisch buktinya.” pungkasnya. (MC-02)

Comment here