BERITAWISATA

Kasus Covid Meningkat 300 Persen, Wisata Majalengka Ditutup Lagi

Foto : Kebun Teh Cipasung di Kecamatan Lemahsugih Majalengka

MAJALENGKA – macakata.com – Bupati Majalengka H. Karna Sobahi menyebutkan kasus Covid-19 meningkat 300 persen selama dua pekan terakhir ini. Oleh karenanya, wisata Majalengka untuk sementara kembali ditutup.

Selanjutnya, pihaknya akan memperketat akses keluar-masuk wilayah‎. Mengingat nyaris semua kasus positif covid ini merupakan imforted case, penularan dari warga luar.

“Kaget juga saya, kasus Covid ini meningkat 300 persen dalam dua pekan terakhir.” ujarnya, sesudah menghadiri rapat di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, Selasa, 4 Agustus 2020.

Bupati, kemudian menyebutkan sejumlah kasus terpapar positif Covid di sejumlah kecamatan, lengkap dengan menyebut nama desa-desanya, beserta DP3KB yang saat ini Lockdwon.

“Itu berawal dari kunjungan ke daerah pandemi. Makanya, kita akan batasi akses keluar-masuk. Warga luar yang masuk Majalengka, tentu harus berdasarkan tes swab.” ungkapnya.

Bupati menyarankan anggota DPRD Majalengka, supaya menghindari kunjungan kerja ke daerah pandemi atau wilayah yang rawan terhadap kasus Covid.

“Sebab jika dipaksakan, pulangnya nanti akan membawa virus. ‎Termasuk masyarakat biasa, jangan dulu bepergian ke wilyah pandemi, itu berbahaya. Ketika ada orang masuk, harus segera dilakukan tes swab,” ungkapnya.

Apakah akan diberlakukan PSBB lanjutan? Bupati menjawab, PSBB lanjutan bisa saja diterapkan kembali di bumi Sindangkasih tercinta ini. Hanya saja, pihaknya akan lebih konsen untuk memperketat akses keluar-masuk wilayah saja.

“Harus ada regulasi yang jelas dulu. Itu masih digodog, tapi minimal jangan sampai ada orang luar bebas masuk,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka H. Eman Suherman mengemukakan, Pemerintah Kabupaten Majalengka saat ini sudah mengeluarkan surat edaran (SE) terkait penutupan obyek wisata di seluruh Kabupaten Majalengka.

Hal ini menyusul melambungnya kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Majalengka dalam dua pekan terakhir ini.

“Ratusan obyek di Kabupaten Majalengka ditutup selama 14 hari. Kebijakan ini diterapkan menyusul kasus positif Covid-19 di Majalengka terus meningkat,” kata Sekretaris Percepatan Penanggulangan Covid-19 Majalengka, Rabu, 5 Agustus 2020.

Menurut dia, terjadinya peningkatan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dalam rentang 12 hari terakhir dari tanggal 21Juli – 2 Agustus 2020 perlu dilakukan pencegahaan di antaranya menutup obyek wisata di Majalengka. Penutupan sendiri dimulai dari 4 Agustus – 18 Agustus 2020 mendatang.

Eman melanjutkan, dengan adanya SE yang baru ini, maka secara otomatis mencabut kembali SE terkait pembukaan Industri Pariwisata, Aktivitas Ekonomi Kreatif, dan pertunjukan seni budaya di Kabupaten Majalengka.

“Kami juga sudah mengintruksikan kepada pengelelola obyek wisatanya serta meminta kepada para camat dan kepala desa untuk mensosilisaskan kembali penutupan ini,”ucapnya.

SE yang sudah dibuat Pemkab Majalengka sendiri, kata dia, akan ditinjau dan dievaluasi dalam pelaksanaanya untuk kemudian diambil kebijakan lanjutan, apakah diperpanjang atau dihentikan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Majalengka Hj. Lilis Yuliasih mengatakan, pihaknya sudah menerima salinan SE edaran bupati dan sudah mensosialisasikannya kepada pihak terkait.

“Karena kasus positif Covid-19 nambah terus, pak bupati menutup obyek wisata di Majalengka selama 14 hari,”ucapnya.

Lilis mengaku, instansi yang dipimpinnya baru beberapa bulan ini masih menemui banyak kendala dalam melaksanakan program kerjanya. Kondisi ini diperparah dengan terjadinya pandemi Covid-19, yang hingga kini masih mengancam semua orang.

“Setelah mengindentifikasi dan mengevaluasi, ternyata banyak pekerjaan rumah di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang saya harus segera diselesaikan,” ungkapnya.

Saat ini dinas yang dipimpinnya belum memiliki regulasi di antaranya, Perda Rencana Induk Pengembangan Pariwisata dan Kebudayaan, Perda Tentang Kebudayaan, Perda Penyelenggaraaan Kepariwisataan dan Perda Pengembangan Ekonomi Kreatif.

“Selain Perda kami juga belum memiliki Perbup Retribusi Pariwisata, Perbub Road Map Ekonomi Kreatif dan belum memiliki aturan antara pengelola obyek wisata milik perorangan, TNGC, Perhutani atau desa,” tuturnya.

Menurutnya, Disparbud juga dihadapkan pada keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang ada. Karena dari hasi penghitungan ABK dibutuhkan sebanyak 41 orang, sementara SDM yang ada hanya 28 orang. Sehingga kekurangan 13 orang personel.

“Anggaran kami juga terkena refocusing anggaran karena Covid-19 ini. Selain itu pula, terbatasnya anggaran pariwisata untuk pengembangan ekonomi kreatif dan kebudayaan. Padahal sektor itu menjadi lokomotif ekonomi daerah,” pungkasnya. ( MC-02).

Comment here