CERPEN

Selembar

Foto hanya sekedar ilustrasi saja

Cerpen : Ridwan Kamaludin

MACAKATA-COM- Malam sudah mulai larut, hening semakin muncul. Tetapi Yayat tidak merasa tersulut sedikit pun untuk pulang oleh hening malam. Kendaraan roda dua itu satu persatu telah pergi, mungkin mengejar yang dicari. Lapangan yang tidak terlalu luas, diapit oleh dua gedung tinggi gemuk. Dimana telah dijaganya, serta telah menghidupinya selama hampir sepuluh tahun itu, hanya menyisakan tiga motor. Jika dijumlahkan, kira-kira ia akan mendapat uang enam ribu. Pas, dan tidak akan lebih. Yayat tahu, dan tidak menuntut lebih, harga uang parkir dari satu kendaraan motor ini hanya dua ribu rupiah.

Sebab malam sudah makin menutup cahaya, juga cuaca seperti mengisyaratkan tidak akan bertambahnya pengunjung di sepanjang Jalan Braga ini. Terlebih beberapa jam yang lalu, kembang ini diguyur hujan. Para orang berduit akan sukar menenggak bir di sini, mereka akan lebih memilih tempat kopi, bandrek atau bajigur.

Setiap harinya, pasti pria tua dengan tubuh setengah renta itu mendapat cerita. Entah itu cerita yang membuat geleng-geleng kepala, salut, bahkan terbahak jika diceritakan nanti. Tetapi kini sepi. Teman satu profesinya, yang memimpin tempat parkirnya mobil, telah menyerah oleh dinginnya hujan. Yayat pun tidak ada teman bercerita. Tetapi itu kurang penting baginya, yang pasti ialah, kini ia tengah menunggu uang tiga lembar dua ribuan itu. Hujan barangkali akan merasa bersalah jika mengetahui dirinya menjadi penyebab sunyinya jalanan ini.

“Mana perlu polisi mengacak-acak bar dangdut, diskotik yang hadir di sepanjang jalan ini. Siapakah mereka sebenarnya? Punya kehendak apakah sebetulnya?” tanya-nya kepada diri sendiri, ketika mengingat kejadian hari kemarin.

“Semua orang mengetahui, tempat ini adalah suaka bagi kesenangan. Setiap yang merasa sakit, bisa datang ke-sini dan menenggelamkan sakitnya dalam-dalam. Dengan air pemabukan misalnya. Atau oleh tarian seorang perempuan seperempat telanjang. Ya, itu memang menjadi menu yang digemari oleh mata laki-laki, walaupun mereka di luar tegak berbicara tentang objektivikasi,” ujar-nya pada diri sendiri, ketika mengingat rombongan polisi memaksa masuk dan meminta sinar-sinar lampu itu dimatikan.

Bukan hanya oleh hujan jalanan ini dibuat sepi, tetapi dapat pula oleh tingkah polisi. Yayat berpikir, polisi adalah manusia yang tengah bekerja untuk menunaikan tugasnya. Tapi, Kalau para polisi telah membubarkan banyak orang secara semrawutan, celakalah Yayat. Motor-motor yang senantiasa mengantri dan diberi nomor parkir ini, bisa kabur tanpa mengucapkan sepatah kata terima kasih.

Ia menggeleng-geleng mengingat kejadian hari itu, ia keder. Hendak marah tapi tak bisa. “Siapa yang berani dengan kumpulan orang berseragam itu? Melawan juga bisa-bisa babak belur!” pikirnya, yang disambut oleh suara perut.

Saat hendak melangkahkan kaki untuk pergi ke tempat makan, seorang pria berusia setengah tua, berbadan kurus dengan mata tampak rabun, mendekati tempat parkir itu. Yayat tampak senang, seperti ada tambahan uang untuk melangkahkan kaki kepada sepiring nasi. Dua motor yang masih tinggal, ia tak hiraukan —sebab hari sudah semakin membelai-belai.“ Ini yang terakhir, aku mau langsung pulang. Tidak jadi makan di Ceu Mimin. Biar nanti saja di rumah, itu lebih hemat dan pilihan yang tepat,” tekannya pada hati.

Seperti biasa, layaknya tukang parkir lainya. Kerap mirip dalam praktik kerja. Dengan jaket rompi warna orange, dilambaikannya tangan sebelah kanan, sedang yang kiri turut menarik motor lekas keluar dari kandangnya. Kepala tidak pernah diam, ditengoknya kanan-kiri terus menerus. Mulut terus mengucap: kanan-kiri, terus-terus, lawan, balik kanan…..

Asap rokok mengepul sepanjang jalan yang gelap itu. Kakinya diayunkan dengan tenaga yang kencang, agar cepat sampai kepada rumah tentunya. Ia teringat, belum memeriksa kembalian dari rokok yang dibelinya. Seluruh saku dirogohnya, dari kanan dan kiri dikeluarkan uang-uang itu, kecuali tas kecil yang menempel pada dadanya. Yayat kaget, ada uang dua puluh ribu di saku kanan. Di saku sebelah kiri memang tepat jumlah uang empat ribu, sebagai kembalian dari warung tempatnya membeli rokok. Matanya melotot sedikit, keningnya berkerut, ia tengah mengingat dan bertanya pada diri sendiri, kenapa bisa ada uang dikantongku? Ia melihat kanan-kiri, tidak ada seorang pun. Kini ia bisa merasa lebih leluasa untuk mengingat sambil memperhatikan uang itu. Ia tidak merasa mendapat uang itu dari jalanan, tetapi jika seandainya “Ya”, Yayat akan merasa berdosa sebab orang yang kehilangan uang itu akan bersedih. Terlebih lagi Ia telah membuat hati satu manusia pilu, itulah yang dihindarinya. Setidaknya begitulah yang diajarkan kedua orang tuanya ketika ia masih cilik dahulu.

Yayat tersentak, seketika teringat dengan orang yang terakhir ditemuinya di tempat parkir. Ya, ia mengingat pria kurus itu. Ia kini tengah menerawang bagaimana sedihnya pria kurus dengan celana tipis yang tadi ditemuinya itu. Ia berpikir apakah uang dua puluh ribu ini adalah uang simpanan untuk diberikan kepada istrinya nanti, atau untuk makan, atau untuk membeli bensin, atau untuk membeli kopi karena ini musim enak menyeduh, atau untuk membeli jas hujan sebab hujang kepar datang tiba-tiba, atau untuk pergi ke Saritem sebab dingin begini enaknya didekap oleh payudara besar, atau atau……Yayat segera kembali ke tempat parkirnya untuk menemui pria itu. Lalu setelah bertemu, ia berencana akan meminta maaf sebab lupa memberi kembalian. Juga sekaligus memberi kritik, kenapa tidak seperti orang lain yang menyediakan uang receh tiap bertemu dengan tukang parkir. Rokonya seketika mati terkena rintik hujan penghabisan. Tetapi tintik yang jarang-jarang itu, tidak cukup membuatnya menyerah untuk membalikan badan agar bertemu dengan pria berkacamata itu.

“Cari apa sih? Serius betul. Perempuan yang biasa kau intip, sudah pulang. Dengan langkah kesal, perempuan itu berkata, ini hanya buang-buang waktu. Aku menari hanya dapat pegal, tidak ada duit menempel di kantungku. Aduh bagaimana aku bayar listrik. Hahaha,” tanya seorang pemulung dengan gelak tawa. Si Pemulung berbicara sambil membangun suatu bentuk, mungkin seperti rumah. Tapi terbuat dari kardus, baliho dan dua payung hitam.

“Kau lihat seorang pria dengan motor tua, lalu-lalang di jalan ini?”

“Ya aku lihat, yang tadi pake jaket abu warna kusam bukan? Ehhh seperti bukan abu, tapi coklat, mungkin hijau…”

“Betul. Dimana dia sekarang, atau ke-arah mana dia pergi?” potong Yayat, penuh tanya.

Si Pemulung menjawab, tetapi dengan kata-kata yang aneh dan sukar dicerna. Tanpa menunggu Si Pemulung selesai berbicara, Yayat langsung pergi menghindari percakapan yang lebih panjang lagi.

Yayat gusar, rasa bersalahnya semakin membengkak. Dengan memasukan tangan pada saku, sambil memastikan uang itu masih ada, bibirnya terus-terusan bergetar. Entah oleh dingin atau rasa kesal. Hendak memaki dan berteriak, tetapi itu hanya akan menjadi sia-sia baginya. Yayat makin kesal, kepada diri sendiri disimpannya paling besar.

“Kenapa aku bisa begitu ceroboh? Toh uang dua ribu dan dua puluh ribu beda raba-nya. Kenapa mesti aku yang menanggung rasa bersalah ini? Ya Tuhan kenapa bencana ini kau hujamkan pada diriku. Apa dosa yang telah aku perbuat sehingga kau begitu tega. Aku sudah miskin, itu sudah cukup Tuhan. Jangan lagi, jangan lagi….” Gerutunya dalam hati. Ia tidak menyadari bahwa kini ia telah menjadi tontonan. Bersujud dipinggir jalan, dengan uang dua puluh ribu di kening.

“Kasian benar orang itu….” ucap seorang laki-laki.

“Betul, kita harus banyak bersyukur….”

“Dua puluh ribu cukup untuk apa jaman sekarang?…”

“Waw, duapuluh ribu sangat berharga baginya,” ungkap seorang perempuan ketika melihat kejadian itu. Percakapan orang-orang yang menatapnya, tidak jelas terdengar oleh Yayat. Tapi sorot mata mereka seperti menyimpan prihatin. Dan itu betul terasa olehnya.

“Sialan, memang siapa mereka mau mengasihani aku! Mereka cuman manusia-manusia tak punya empati. Hanya berkata kasian, tapi tak pernah betul turut memberi kebahagiaan untukku. Sialan manusia-manusia hipokrit ini!” geramnya, sambil menancap tenaga pada kedua kakinya.

Sambil hendak melupakan sosok laki-laki yang kini tengah menghantuinya, Yayat pergi ke tempat kopi. Suaka bagi para tukang parkir. Tanpa sengaja ia menceritakan kejadian yang dialaminya, tanpa ditanya oleh siapapun dengan gaya mirip orang melantur.

“Celaka, itu benar-benar celaka. Kita sebagai manusia kecil mesti menonjolkan kebesaran kita. Uang? kita tidak ada! Perilaku jujur dan prinsip hidup bijak? itu bisa dilakukan oleh siapa saja bukan? Tidak terkecuali oleh kita yang miskin ini. Kau tahu tentang istilah, apa yang kita tanam adalah apa yang akan kita petik? Jika suatu hari kau ditiban sial, jangan kau marah dan kecewa berlebihan. Tegasnya harus menerima. Sebab hal itu adalah pucuk dari yang kau tanam. Ini yang kau tanam, keculasan. Kau tidak jujur!” Ucap satu yang menanggapi.

“Bukan aku tidak jujur. Ini mutlak keteledoran yang tentu tidak disengaja. Aku kurang teliti, mestinya ku tengok dulu berapa uang yang masuk kantong. Lagian aku tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Toh biasanya orang-orang, dan semua tahu; jika membayar uang kepada tukang parkir mestilah pakai uang pas. Sebab tidak akan ada kembalian, atau kalau mereka mau tetap meminta kembalian, memangnya mau kantongnya berisik oleh uang receh? Aku menolak menjadi terdakwa dalam kasus ini!” ucapnya tegas serta penuh pasti.

Dunia baginya kini tengah melotot dengan aura marah. Atau mungkin menguji, serta memantau kebaikan hati seorang manusia. Tetapi Yayat tidak peduli dengan penilaian atau prestasi yang akan didapat jika ia betul baik hati. Jikalau ternyata uang ini adalah semacam “test” dan terdapat kamera tersembunyi, lalu pada akhir episode ia dikagetkan dan diberi hadiah. Baginya itu lain lagi. Mungkin sedang beruntung atau mendapat bonus dari kehendak baiknya.

Ia segera membalikkan badan ke tempat terakhir bertemu dengan laki-laki itu. Yayat melihat dari jauh kerumunan yang tadi menatapnya, kini tampak membubarkan diri. Ia jadi teringat tempat laki-laki itu keluar, dan kini ia berencana untuk masuk kedalam Bar itu. Bar yang paling gelap dan sepi.

Yayat mengintip dibalik kaca jendela. Ia melihat tidak banyak orang. Hanya tampak dua manusia, satu perempuan dan satu laki-laki. Tapi kiranya mereka bukan sepasang kekasih, sebab dilihat dari tempat duduk yang berbeda dan tidak tampak interaksi sedikit pun. Dibalik kaca itu, terpantul juga rupanya. Yayat melihat diri sendiri. Begitu kusam, letih, mungkin juga menyedihkan. Ia bertanya pada diri sendiri, dimanakah tempatku? apakah Bar cocok untukku masuki?

“Ya…Dan kau kini?….Astaga kau mendorong motor tengah malam seperti ini. Gila, mending rehat dulu…. Apa di sana jalanan sepi. Waduh…makannya hati-hati, kalo sadar punya uang satu lembar dijaga baik-baik…” ucap seorang perempuan kepada telepon.

Yayat kini tidak banyak cingcong. Pertanyaan yang lahir dari rasa malu dan ragu itu dihantamnya. Di-injak dan dibuang jauh-jauh. Ia menerobos masuk “Maaf mba, tadi saya dengar dua puluh ribu, dorong motor..”

“Aaaaaaa..Tolong..tolonggggg”, belum sempat selesai berbicara, terpotong seketika oleh teriakan suara perempuan itu. Dengan cepat penjaga keamanan setempat pada keluar, tanpa tedeng aling-aling Yayat ditendangi sampai babak belur. Tubuh kurusnya makin ringsek. Baju kehormatannya bolong-bolong. “Ya, kini terang, itu bukan tempatku. Ya tuhan apakah ini awal dari ajab-ku” ucapnya pada diri sendiri.

Tubuhnya yang makin lesu, Ia paksakan untuk tetap berdiri lalu pergi dari rasa gelisah dan bersalah ini. Rumah adalah tempat baginya yang benar-benar mau menerima segala ke-khilafan, dosa, bahkan pengkianatan besar sekalipun. “Cuih…Cuihhh..Cuihhh” suara puluhan ludah keluar dari dalam mulut, yang dikeluarkan oleh tukang parkir yang ditemuinya ditempat kopi tadi. Diteruskan dengan berkata “Dasar tidak jujur, mencoreng nama baik tukang parkir. Buang rompi itu, lebih baik kamu jadi koruptor saja.” basah ludah diselingi oleh ucapan demikian.

Sedihnya tak terbendung, Yayat mengambil uang dari dalam sakunya, dan dilihatnya dengan penuh khidmat. Ia menangis tersedu-sedu. Tidak ada orang yang melihatnya, hanya langit yang menggelap terus mengawasi. Ia hendak merobek uang pembawa petaka itu, tetapi seketika urung, sebab itu akan membuat masalah baru. “Itukan perbuatan mubadzir. Mudorot. Pamali” seketika kata-kata itu muncul dan membayang dari dalam kepalanya. Ia jadi teringat Si Pemulung yang tidur di pinggir jalan itu, ia jadi teringat prilaku-prilaku menyebalkan dari Si Pemulung. Yayat juga diam-diam mempunyai dendam pribadi kepadanya. Tak lain sebab waktu itu: Si Pemulung dengan sembrono merobek jok motor dari lahan parkir tempat Yayat bekerja. Menjadikan dirinya mesti ganti rugi.

Ia berpikir jika uang dua puluh ribu ini di berikan, maka kesialan akan menempel pada Si Pemulung. Ide itu seketik membatu menjadi langkah. “Terima kasih, baik benar kamu malam ini. Bagi-bagi uang segala, sudah gak butuh uang kamu? Jangan berpikir uang ini adalah sogokan dan aku akan menghormatimu yaa!” ucap Si Pemulung. Tapi Yayat hanya diam dan menahan rasa geli dicampur bahagia sebab sialnya akan hilang. Tanggung jawab mengembalikan uang pun sudah tidak ada. Dan kini tidak ada rantai lagi dibawah kakinya. Ia benar-benar mau melangkahkan kaki untuk pulang.

Di jalan pulang, di bawah sinar lampu yang terang, berdiri baligo raksasa yang membuatnya kaget luar biasa “kampreeettt kampreeeet. Pantes aja wanita tadi gak mau aku deketin, dia selebritis besar. Mana mau dia dekat-dekat sama aku. Ya Tuhannnn. Tapi ini yang membuatku sesak. Benar-benar sesak. Orang yang ku cari dan hendak ku kembalikan uangnya, tak lain adalah seorang produser besar. Ia memberi uang dua puluh ribu itu sengaja. Tidak berharap kembalian. Yaaa Tuhannn derita macam apa ini..…” mulutnya terus berucap sambil melihat dua baligo besar untuk acara meet and great minggu depan. ***

—Penulis tinggal di Bandung. Saat ini sedang studi Sarjana (S1) di ISBI Bandung, jurusan teater. Aktif menulis di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) kampus. Sempat menjadi pemimpin umum LPM tersebut. Sekarang mulai fokus menulis fiksi. Khususnya Cerpen.

Comment here