GAYA HIDUP

Tawuran Diamankan

MAJALENGKA – macakata.com – Enam pelajar diamankan petugas. Mereka ternyata membawa senjata tajam.

Mula-mula, enam pelajar ini tertangkap ketika mereka terjaring dalam rajia kendaraan.

Dalam kendaraan motor yang mereka tumpangi, ada sejumlah benda tajam, diantaranya pisau, celurit dan samurai pendek.

Mereka tertangkap di wilayah Kecamatan Kadipaten Kabupaten ‎Majalengka. Berdasarkan keterangannya, enam pelajar ini punya motif dendam terhadap pelajar lain di sekolah lain.

Mereka menyebut pelajar asal Sumberjaya dan Sindangwangi. Petugas kepolisian yang menangkap mereka tentu saja merasa khawatir.

Konfrensi pers itu berlangsung di halaman lobi Mako Polres Majalengka, pada Rabu, 21 Desember 2022.

Fenomena tawuran  dan motif dendam antar sesama pelajar dari wilayah lainnya di Kabupaten Majalengka, menjadi pekerjaan berat semua kalangan.

Tak hanya dinas pendidikan, namun orangtua, juga pemerintah kabupaten, perlu mencegah supaya tidak terjadi lagi fenomena tawuran ini.

Sejumlah kasus kenakalan remaja, geng motor, tawuran antar pelajar harus dicegah.

13 Desember 2022 lalu, Polsek Kadipaten mengamankan enam orang pelajar. Jangan sampai terjadi lagi.

Motif dendam antar sekolah menimbulkan perpecahan. ‎Anak-anak mencari kebanggan semu atas identitas sekolahnya.

Saat ini, fenomena muncul, dendam antar geng motor kini merambah para pelajar. Mereka berkelahi mengatasnamakan sekolah.

Tak hanya pihak kepolisian, maupun unsur TNI yang harus turun tangan. Tapi semua pihak harus terlibat.

‎Padahal mereka masih pelajar, namun telah sangat berani membawa senjata tajam untuk perkelahian dan tawuran.

Generasi bangsa‎ kita terancam. Bahkan, mereka mengajak anak lain melakukan hal serupa.

Emosi remaja memang masih labil. Butuh bimbingan dan panutan yang baik.

Sementara, jika tindakan terlanjur ada, serta sejumlah anak tertangkap, semisal ada luka bacok, makan akan berkibat fatal. Sekolah punya aturan. Penegak hukum bisa mengamankannya.

Harus ada program khusus‎ menangani persoalan-persoalan anak semacam ini. Jika telah diamankan, maka petugas kepolisian tidak bisa menyatukan si anak ke dalam sel tahanan dewasa.

Hasilnya, anak yang telah berulah, disekolahkan ke pesantren dengan pengawasan yang ketat namun manusiawi. ***

Comment here