KISAH HIDUP

Keluarga Almarhumah Masih Penasaran, Sering Muncul di Mimpi Anaknya, Fakta-fakta Logis Seolah Menguap

MAJALENGKA – MacaKata.Com – Semasa hidupnya, Hajah Siti Halimah punya kebiasaan berangkat ke kebun atau sawah dengan berjalan kaki.

Kondisi jalan kaki itu, selain menyehatkan juga olahraga yang paling baik untuk usia seorang nenek. Jarak yang ditempuh juga tidak terlalu jauh dari rumahnya itu. Hanya sekira kurang dari 500 meter.

Siti Halimah biasa pergi ke sawah atau kebun miliknya pukul 08.00 pagi atau pukul 09.00 WIB, dan biasanya sudah berada di rumah sebelum Dzuhur.

Tapi, pada hari Jumat tanggal 05 Oktober 2018 lalu, setelah Dzuhur atau saat kaum laki-laki telah Jumatan, Siti Halimah belum terlihat ada di rumahnya. Sampai ada tetangganya yang memberitahu bahwa ada seseorang yang terbakar di kebun bambu di dekat sekolah dasar.

Pihak keluarga saat itu, seketika bergegas melihat lokasi kebakaran di kebun bambu, yang dapat ditempuh dengan waktu kurang dari lima belas menit dengan berjalan kaki. Lima menit kurang jika berkendara.

Api cukup besar. Waktu itu cuaca tidak hujan. Warga pun membantu memadamkan api karena takut merembet ke atap rumah yang berada dekat dengan kebun bambu tersebut.

Setelah padam, jasad Ibu Haji Siti Halimah ditemukan diantara jurang rumpun bambu yang cukup dalam, dipenuhi daun dan ranting bambu.

Warga mengira, siapapun yang masih hidup, logisnya akan menghindari dan lari menjauhi sumber api.

Pertanyaan logis muncul, kenapa jasad tersebut ditemukan sudah dalam kondisi kaku, seperti habis dipangku oleh seseorang atau dua orang yang menaruhnya secara sengaja di diantara jurang rumpun kebun bambu itu.

‎Sang anak mencari tau tentang kematian orang tuanya, perihal idealnya jasad menjadi kaku. Kata si pemeriksa jenazah/jasad, Jasad seseorang akan menjadi kaku dalam waktu setengah jam setelah meninggal. Tapi jasad itu ditemukan sudah terlalu kaku di rumpun bambu yang terbakar.

“Nah, kenapa ketika ditemukan jasad almarhumah ibu saya itu sudah kaku, sudah mengeras? Itu pertanyaan yang bikin saya tak bisa tidur,” ujar Sobur, anak dari almarhumah Ibu Hajah Siti Halimah, Rabu, 15 Juni 2022.

Sejak empat tahun lalu, nyaris setiap malam, ia selalu didatangi sang ibu dalam mimpinya.

Dalam mimpi itu, ibunya berpesan agar mencari tau orang yang membunuhnya. Bahkan, sang ibu dalam mimpi itu menunjukkan secara tepat, wajah orang yang telah menghilangkan nyawanya.

“Mimpi itu sering datang ketika saya tidur. Bukan hanya kepada saya saja, tapi kepada anaknya yang lain pun mimpinya juga sama persis. Saya punya tiga adik laki-laki, semuanya sama, mengalami mimpi yang sama,” ujar ‎Sobur Sahmudin, 61 tahun.

Dalam obrolan santai di salah satu rumah makan, didampingi lawyer dan timnya, Sobur dan keluarganya kini tengah berjuang untuk menyingkap kebenaran tentang misteri dan rasa penasaran itu.

Lokasi kebakaran tersebut berada di Desa Mekarmulya Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Sobur menjelaskan, ‎sebagai seorang anak, dia dan anak-anak almarhumah Hj. Siti Halimah merasa belum tenang. Karena misteri kematian tragis ibunya menurut pihak keluarga belum terpecahkan.

“Saat ini, kami sedang berjuang untuk bisa mendapatkan keadilan hukum  di negeri ini,” ucapnya.

Saat kejadian 5 Oktober 2018 lalu, ibunya Hajah Siti Halimah itu berusia 82 tahun ditemukan jasadnya dalam kondisi mengenaskan dan terbakar, di Blok Bagogog Kampung Jamilega, Desa Mekarmulya Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka.

Apalagi, didukung serangkaian fakta lain‎, sebelum kejadian kebakaran dan ditemukan jasad sang almarhum, erat kaitannya dengan perebutan pembagian harta warisan.

Sobur dan keluarga di pihak yang sama, menilai, sebelum kejadian tak mengenakan itu, lima hari sebelumnya sempat ada perselisihan soal pembagian tanah.

“Ada tiga lokasi tanah yang direbut secara paksa oleh pihak keluarga lain. Yakni soal penyerobotan tanah di tahun 2008 lalu,” ujarnya.

Situasi perebutan tanah tersebut, terus berulang pada tahun 2012, 2014 dan penyerobotan paksa terakhir pada 30 September 2018.

Jasad ibunya pertama kali ditemukan karena rumah yang dekat dengan TKP akan terbakar. Pemilik rumah berteriak minta tolong untuk memadamkan api yang nyaris melahap rumahnya.

“‎Tidak ada tanda- tanda perlawanan dalam jasad ibu saya. Padahal logisnya, kalu orang hidup dikelilingi api, pasti akan ada upaya menutup hidung dan menutup wajah dan paling logis menghindari sumber api, bukan malah lari ke jurang rumpun. Kami menduga, almarhumah ibu saya sudah meninggal terlebih dahulu sebelum ditemukan di rumpun bambu itu. Saya menduga, Ada yang membawa ibu saya dan menaruhnya di sana,” ujarnya.

Pihak keluarga telah melakukan beragam upaya, ‎ia telah menghubungi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) baik di tingkat Polsek, Polres, Polda Jabar bahkan sampai Mabes Polri.

Sobur dan keluarga yang sepihak, juga mendatangi Ombudsman Perwakilan Jawa Barat, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnasham) RI dan pimpinan Komisi III DPR RI.

Fakta lain berbicara, pihak keluarga Sobur pernah didatangi satu orang yang memang diduga kuat ada kaitan dengan motif hak waris tersebut, atau seseorang  yang diduga bagian dari komplotan  yang terlibat pada dugaan kasus kematian sang ibu.

“Orang itu datang lalu meminta maaf kepada saya dan anggota keluarga yang ada di ruang tengah.

Saat ditanya permintaan  maaf untuk masalah apa? Orang tersebut justru tidak mau terus terang dan hanya mengatakan bahwa “Saya suka merinding  kalau ingat kejadian itu” ujar Sobur menirukan  perkataan orang yang datang meminta maaf tersebut.

Beberapa saat setelah kejadian itu, kemudian, seorang aparat desa mendatangi kelurganya dan menyodorkan surat pernyataan, yang isinya menyatakan bahwa keluarga Almarhumah Hj. Siti Halimah mengakui kalau kematian ibunya itu karena kecelakaan dan tidak akan menuntut.

“Waktu itu, kami dan pihak keluarga tidak bersedia menandatangani surat itu,” ujarnya.

‎Dalam kesempatan itu, Sobur berharap dengan dibantu pengacara ia dan keluarga bisa menyingkap agar kasus kematian ibunya dapat diproses secara hukum.

“Sebagai ikhtiar dan pengabdian seorang anak kepada sang ibunda tercinta, saya selaku anak tentu harus memperjuangkannya. Tidak enak pak, terus didatangi sang ibu dalam mimpi, itu semua kami lakukan, agar saya dan anak-anaknya juga bisa tenang,” ungkapnya. (MC-08)

Comment here