BUDAYAPENDIDIKANScience

Literasi Perlu Edukasi dan Sosialisasi

Rumah Hijau Denassa

MAJALENGKA – MacaKata.com – Bidang literasi masih menjadi isu yang seksi, namun kurang peminat bila dibandingkan dengan bidang olahraga. Oleh karenanya, peningkatan literasi di Kabupaten Majalengka perlu terus diedukasi dan disosialisasikan.

Saat ini, yang menjadi konsen edukasi dan pengenalan, serta terapan bidang literasi masih mencakup pada enam bidang, yakni Literasi Baca Tulis, Literasi Digital, Literasi Numerasi, Literasi Sains, Literasi Finansial serta Literasi Budaya dan Kemasyarakatan.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat, melalui Sekjennya, Tata Irawan mengatakan, ‎pihaknya berharap, berdirinya Gedung Perpusda Majalengka yang cukup refresentatif ini perlu terus didukung oleh program-program yang positif.

“Dalam hal ini diperlukan konsistensi pembinaan seluruh jenis perpustakaan, baik oleh Perpusda maupun dinas pendidikan, atau dinas lainnya, termasuk Kominfo,” ujarnya.

Tata menambahkan, dinas melalui lembaganya itu harus terus mengadvokasi lembaga, instansi, desa, sekolah yang ingin dan akan mendirikan maupun mengembangkan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat.

“Dinas manapun bisa berkordinasi dan bersinergi, mengingat bilamana bicara literasi, maka hal itu mencakup semua bidang,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan pegiat literasi Majalengka, Dodi Jaya. Ia mengatakan, dinas maupun komunitas harus bersama-sama memunculkan pro aktif  untuk membangun sinergi kolaborasi, untuk memajukan dunia literasi di Kabupaten Majalengka.

“Dalam hal sosial media, maka literasi yang perlu dikembangkan bukan saja literasi digital. Tapi juga literasi baca tulis,” tuturnya.

Dodi menjelaskan, seringkali pihaknya merasa prihatin bilamana melihat tulisan judul status, yang ditulis dengan bahasa yang terlalu asal-asalan, padahal informasi itu sangat bagus dan positif. Serta, si penulisnya itu sudah mengenyam bangku SD, SMP dan SLTA, serta sebagian lulusan perguruan tinggi.

“Beda ceritanya, ketika status di Facebook atau instagram, misalnya ditulis dengan bahasa yang sesuai kaidah, enak dibacanya itu sangat mendidik. Sementara, kita sejak SD sudah diajarkan bahwa menulis yang baik itu berurutan dengan standar Subyek Predikat Obyek dan Keterangan (SPOK), itu tingkatan yang paling mendasar banget,” ungkap pegiat literasi Majalengka yang pernah berkunjung ke negara Turki tahun 2015 lalu. (*)

Comment here