Uncategorized

Mereka Bahagia

 

Cerpen: Rd. Ace Sumanta

 

MACA – Awalnya sangat mencemaskan. Sang cucu bernama Zelin dari anak pertama pasangan AS dan SH. Kakek dan nenek itu hidup di perkampungan damai. Rumahnya di kelilingi pohon jambu, dan pohon samida warisan dari Kerajaan Sunda baru terungkap lagi. Pohon Samida yang konon di pakai peakaran mayit zaman Kerajaan Pakuan yang di nakodai Prabu Siliwangi Sang Maharaja bijak nan adil. Pohon Samida nama lainnya Butea Monosperma, di Sunda lebih terkenal Pohon Pakuan atau Palasa di Jawa namanya Poloso. Tersirat di Prasasti Batutulis tahun 1533 M “nyian Samida”. Zaman Prabusilihwangi muncul dan berkembang di Kebun Raja yang istililahnya kebun samida. Setelah zaman berlalu pohon itu tercerabut dari akarnya Bumi Pajajaran.

Sang cucu kini menginjak 1.5 tahun, anak lincah dan cerdas. Kini terasa murung setelah pulang ena, di ajak ibunya. Keluarga panik karena baru punya satu cucu. “Hadeh…bocah di bawa renang…” umpat Sang Kakek. “Sabar..berdo’a saja!”, ujar Sang Nenek.

Orang tua Sang Bayi gelih, mengeluarkan kendaraan yang tengah di parkir di jalan bergegas ke dokter anak yang biasa menanganinya walau penyakit filex.

” Tidak apa ibu?”, ujar dokter.

“Alhamdulillah”, jawab keluarga.

“Mungkin mau bisa bicara!”, celetuk Sang Nenek. Orang tua dulu lebih percaya pepatah lama. Kalau naik suhu badannya mau bisa berjalan atau tumbuh gigi. Kini lebih percaya mau bisa bicara, dari terbata-bata menjadi lancar.

“Amin YRA”, balas orang tuanya yang sejak tadi berdoa di dekat dokter. Sang Bayi melirik ke arah dokter.

Suasana hening seketika di langit-langit rumah sakit dua sejoli cecak berkejaran seakan memecahkan suasana.

Suara anak kecil menangis di kamar sebelah. Pengunjung rumah sakit mulai riuh ada suara bisikan, ada yang tengah berdo’a. Keluarga Sang Kakek mulai tenang. Bayi mulai bersuara. Bergumam. Memanggil “Bu”.

Terasa girang semuanya. Sang Bayi melafalkan “Bu…”. Dengan fasih Sang Bayi brucap, “Bubu bubu”. Ayahnya mengambil boneka bubu di mobilnya.

Alahamdulillah, suara riang. Sang Kakek mengusap air mata. Satu kamar yang dihuni keluarga cemara tersenyum.

Dokter kembali memeriksa Sang Bayi. Dinyatakan sehat dan diperbolehkan sehat. Sang Ibu dari putri mengurus adminiatrasi. Sang Nenek membereskan pakaian yang di temani oleh pembantunya. Ayah dari Sang Bayi memarkirkan kendaraan menuju pintu rumah sakit.

Suasana hening, sesekali suara Sang Bayi dan obrolan orang tua.

Suara kendaraan meninggalkan rumah sakit. Satu keluarga menuju jalan raya belok kanan ke arah pulang. Sebelum menuju rumah mampir di tukang Soto Bogor. Makanan pavorit Sang Kakek. Tentu merasa gembira. Sang Kakek memesannya dengan nasi. Akhirnya rombongan Keluarga Cemara sibuk dengan pesanannya. Sudah merasa lega hati kami. Sang Bayi tambah bawel di pelukan Sang Nenek.

Suasana tambah ceria, bahagia. Tak terbendung bahagia itu sembari menikmati hidàngan soto khas Bogor. Kini rasa sesal ibunya Sang Bayi terobati dengan cerianya Zelin.

 

Bogor, 20 Juli 2025

Comment here