CERPEN

Mencari Jejak Surga

 

Karya : Ceng Ahmar Syamsi

Lelaki muda itu bernama Purnama. Ia sudah ditinggalkan ibunya sejak usia 6 tahun. Dan dari semenjak itu, Pur, begitulah ia biasa dipanggil, hanya mengenal sosok ibu melalui tangan Bi Sum, pembantu di rumahnya. Dua tahun kemudian memang hadir sosok perempuan di rumah itu. Tapi Pur tak merasakan sosok ibu di diri perempuan tersebut. Karena dia juga rupanya memiliki anak yang seusia dengannya. Kembar pula.

Kehadiran mereka di istana yang tadinya sepi, sepeninggal ibunya, menjadi cukup ramai. Setidaknya Pur memiliki teman untuk berdebat atau bertengkar. Kalau bukan Bi Sum yang selalu perhatian, mungkin sudah sedari dulu, ia kehilangan sosok kasih sayang pengganti ibunya.

Hingga pada suatu hari, tepat ketika usianya tujuh belas tahun, ia menemukan sebuah foto di kamar Bi Sum. Foto itu yang akhirnya membawa dirinya berpetualang ke sebuah tempat di Bandung. Di sana ia bertemu dengan Ibnu, pemuda ramah yang belakangan diketahuinya, bukan hanya pengajar ngaji anak-anak saja, melainkan juga seorang imam di sebuah mesjid yang ia singgahi saat beristirahat dan sholat Ashar di sana.

Bertemu sosok perempuan bernama Amanda. Perempuan berusia setahun lebih tua darinya. Dia yang menyelamatkan Pur dari kepungan para wanita pelacur, juga yang membantunya mencari rumah Nek Maryam, dan menolongnya saat ia dicegat oleh beberapa waria.

Bertemu dengan keduanya laksana melihat surga yang berbeda. Ibnu yang taat dan berbakti pada ibunya, mengingatkannya pada sebuah kisah sahabat Rosululloh ketika ia masih kecil dulu. Kisah yang sempat membuatnya antusias mencari surga di bawah kaki di bawah telapak kaki Sulastri, perempuan yang belakangan diragukannya sebagai ibu setelah mendatangi rumah Nek Maryam di sebuah tempat pelacuran.

Sementara Amanda, gadis yang dirasa Pur hanya menjadi korban konotasi “patuh” pada sang ibu. Bagaimana mungkin seorang ibu yang baik akan menjerumuskan anak gadisnya sendiri pada jurang pelacuran? Pur bertanya pada dirinya sendiri, adakah surga di telapak kaki ibu macam begitu?

Pur begitu sulit menerima kenyataan. Antara harus percaya dan tidak pada ucapan nenek renta bernama Maryam.

Bahwa dia katanya bukan anak Bram dan Sulastri.

Pur yang penyuka dunia menulis mencoba terus menyibukkan diri dengan membuat novel. Sebuah karya yang kemudian menerbangkannya ke Negeri Yunani. Di sana, ia menemukan surga yang lain. Surga yang selama ini hanya bisa menjadi impian sejak SMP dulu.

Setidaknya, saat ia tak menemukan jejak surga dari telapak kaki yang sesungguhnya, ia masih bisa menikmati surganya yang lain. Biarlah ia tak menemukannya. Itu rahasia Tuhan.

Di rumah, Bi Sum memandangi foto Pur. Air matanya deras mengucur. Andai Den-nya tahu, kalau wanita yang selama ini melayaninya di rumah adalah neneknya. Namun ada rasa jerih, jika mengingat Pur hadir ke dunia ini. Dia ada tanpa di harap. Karena ia berasal dari nutfah tiga laki-laki yang menanam paksa di rahim anak gadisnya, Asih. Perempuan yang sampai saat ini mengalami gangguan jiwa karena tekanan mental.

Comment here