Penulis : Mochamad Ginanjar Riana
Berbicara kepemimpinan cangkupan nya akan sangat luas mengiringi hal-hal berkaitan integritas, tanggung jawab, kredibilitas, ketulusan, pengabdian, dan lain sebagainya. Sayang nya narasi ini perlahan luntur akibat ulah penyelenggara negara yang melalukan penyelewengan kepemimpinan nya dan mengabaikan indikator kepemimpinan yang ada. Sebagai seorang khalifah mustinya hadir memberi contoh bukan terkesan “memanfaatkan situasi” ditengah situasi yang seharusnya menjadi ajang gotong royong.
Lalu, kepada siapa lagi rakyat harus percaya? Kepada siapa lagi rakyat menggantungkan diri? Apakah tidak ada sedikit pun hati kita tersentuh dengan kondisi saat ini kerusakan lingkungan dan fakta bencana Banjir dan Tanah longsor di Sumatera mengajarkan kita bahwa tangisan rakyat rasanya belum cukup untuk mengajarkan sebuah kepemimpinan masa kini, atau kita yang terlewat?
Hal ini berbasis fakta empiris yang tidak bisa dibantah bahkan oleh penulis sekalipun yang berada dan bekerja di lingkup pemerintahan seperti nya sudah bekerja sepenuh hati namun kena imbasnya terhadap apa yang dirasakan rakyat saat ini membuat penulis berfikir. Kok, kenapa bisa sampai separah ini? Saat ini yang tidak dapat dibantah yaitu sebuah narasi berasal dari logika berfikir sederhana bagaimana ini bukan lagi ajang belajar memimpin dan dipimpin tetapi ajang membantu dan saling meringankan beban terdampak bencana, bahwa tertampar fakta bencana alam dan lingkungan yang saat ini terjadi bukan suatu kebetulan tetapi terjadi secara ter struktur dan sistematis mempertahankan keseimbangan ekologis saat ini tidak bisa kita lakukan disaat deforestasi dianggap remeh, perluasan lahan, izin usaha sawit dipermudah, dan tambang serta tanah kita di eksploitasi, ini menandakan tidak ada reforma agraria, UU lingkungan sangat mendukung deforestasi, praktik usaha pertambangan yang meluas. Kita faham bahwa usaha tersebut (sawit dan tambang) meningkatkan nilai ekonomi tetapi apakah lazim apabila reformasi lahan (land reform) saat ini tidak terlaksana bahkan tidak memperhatikan pemanfaatan lahan yang bijaksana dan diatur sedemikian untuk menciptakan keseimbangan ekologis serta hanya memikirkan investasi semata?
Terakhir besar harapan bagi penulis dan renungan bagi diri sendiri dan menyemangati generasi muda lain untuk bisa terus belajar dan mengembangkan diri serta menjadi pemimpin masa depan yang baik dalam hal tata kelola lingkungan. Kita tertampar fakta saat ini bahkan tidak ada lagi yang dapat saya bela karena akuntabilitas data sudah tersevar luas dan valid di berbagai media yang menyoroti, ya harus terealisasi karena kebangkitan ada di tangan generasi penerus.
Sepenggal tulisan dari saya yang akan terus mencintai Indonesia. Semoga cepat pulih bangsaku.
Penulis adalah Tenaga Pendukung Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, Kementerian ESDM RI-
-Aktivis dan researcher lingkungan hidup independen ber proses di Institute of Energy and Development Studies (IEDS)-

Comment here