Oleh : Yogi Hartono
Pertanyaan Retoris
Jika Anda seorang pustakawan, apa yang akan Anda ubah terlebih dahulu: persepsi orang tentang perpustakaan, atau menambah tumpukan koleksi?
Pertanyaan ini jauh lebih penting daripada terdengar.
Karena di era hari ini, perpustakaan tidak otomatis relevan hanya karena memiliki banyak buku. Yang menentukan bukan jumlah koleksi, tetapi bagaimana masyarakat memaknai keberadaan perpustakaan itu.
*Kisah Alya dan Pergeseran Makna*
Alya, pustakawan baru di sebuah kota kecil, gelisah setiap kali melihat ruang baca yang makin sepi. Koleksi sudah lengkap, layanan digital berjalan, dan ruangan nyaman. Tetapi kunjungan tak kunjung naik.
“Apalagi yang harus saya tambahkan?” pikirnya.
Suatu sore, saat pulang kerja, ia melihat mural di dinding pasar: seorang penjual kerupuk digambar dengan sayap besar, menyerupai pahlawan. Seniman yang melukisnya bernama Sagara.
“Kenapa penjual kerupuk digambar seperti malaikat?” tanya Alya.
Sagara tertawa kecil.
“Karena orang tidak tergerak oleh fakta, tapi oleh persepsi. Simbol itu lebih kuat dari realita.”
Kalimat itu menampar kesadaran Alya.
Ia tersadar bahwa inspirasi sering datang dari persepsi, bukan realitas objektif.
Seorang pedagang sayur bisa terinspirasi dari rockstar, bukan karena profesinya, tetapi karena simbol kebebasan.
Seorang siswa bisa tergerak oleh profesor riset nano, bukan karena memahami penelitiannya, tetapi karena simbol kejeniusannya.
Jika inspirasi lahir dari persepsi, maka relevansi perpustakaan juga lahir dari persepsi.
*Transformasi — Dari Koleksi ke Persepsi*
Besoknya, Alya datang dengan ide baru.
Bukan menambah buku, bukan membeli rak baru, bukan menambah anggaran langganan jurnal.
Ia ingin mengubah cara orang memandang perpustakaan.
- Ia membuat program “Satu Buku Mengubah Hidup.”
Ia mengundang profesi yang tak terduga—barista, montir motor, gamer profesional, petani, satpam—untuk memilih satu buku yang pernah mengubah hidup mereka, lalu menceritakan simbol apa yang mereka dapatkan dari buku itu.
Montir memilih buku fisika dasar → baginya simbol logika hidup.
Barista memilih buku biografi tokoh → baginya simbol kreativitas.
Petani memilih buku cerita rakyat → baginya simbol keteguhan hati.
- Ia mengubah sudut baca menjadi ruang cerita simbolik.
Foto-foto profesi dan buku pilihannya dipajang, menjadi dinding persepsi baru tentang siapa saja yang bisa terhubung dengan perpustakaan.
- Ia membangun persepsi baru:
Bahwa perpustakaan bukan tempat membaca,
tetapi tempat berubah.
*Perpustakaan yang Hidup*
Dalam dua bulan, perpustakaan berubah drastis:
Remaja SMA datang karena ingin tahu “buku pilihan gamer.”
Petani kota datang karena melihat profesinya terpajang di dinding simbol.
Masyarakat kembali memotret mural, sudut baca, cerita inspirasi.
Yang datang bukan hanya pembaca, tetapi orang yang ingin merasa termasuk.
Perpustakaan menjadi ruang inspirasi sosial, bukan ruang koleksi.
Alya menyadari satu kebenaran penting:
> “Perpustakaan akan relevan jika mampu membentuk persepsi, bukan sekadar menambah koleksi.” — Yogi Hartono
Kalimat itu ia tulis besar di dinding lobi perpustakaan.
Kutipan itu menjadi pegangan baru bagi staf dan pengunjung.
*Pertanyaan yang Harus Dijawab Setiap Pustakawan*
Sekarang pertanyaannya kembali pada Anda:
Apakah Anda akan terus membangun koleksi?
Atau
Anda akan membangun persepsi baru tentang apa yang bisa dilakukan perpustakaan bagi hidup seseorang?
Karena pada akhirnya, yang membuat perpustakaan bertahan bukan rak-rak yang penuh,
tetapi cara masyarakat memaknai perpustakaan itu dalam hidup mereka.
Penulis adalah Dosen Praktisi Manajemen Konten Digital, Universitas Padjadjaran. Founder Baca di Jatisari.

Comment here