MAJALENGKA – Sabtu, 28 Februari 2026 Puluhan pemuda, siswa, mahasiswa, dan aktivis lintas sektor berkumpul di Kabupaten Majalengka untuk mengikuti Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG). Kegiatan ini bertujuan untuk membedah kembali nilai-nilai universal serta pemikiran strategis KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, dalam konteks kemasyarakatan di era modern.
Penyelenggaraan KPG di Majalengka ini menjadi angin segar bagi dinamika intelektual di Kota Angin. Mengingat warisan pemikiran Gus Dur tentang pluralisme, demokrasi, dan keadilan sosial dinilai sangat relevan untuk memperkuat kohesi sosial di tingkat lokal. Demikian dikatakan Intan Damayanti sebagai kordinator Komunitas Gusdurian majalengka.
Lebih lanjut, Intan mengatakan kelas pemikiran Gus Dur fokus pada Sembilan Nilai Utama
Dalam kelas ini, para peserta diajak untuk mendalami “Sembilan Nilai Utama Gus Dur”, yaitu:
Ketauhidan,Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Kesederhanaan, Persaudaraan, Kekesatriaan, Kearifan Lokal “Gus Dur bukan hanya milik satu golongan, tapi milik kemanusiaan. Di Majalengka, kita ingin nilai-nilai ini tidak hanya berhenti di diskusi, tapi menjadi ruang hidup dalam bertoleransi dan bernegara,” ujar ketua pelaksana moh Faturrahman tsabit dalam sambutannya, didampingi Intan Damayanti.
Kelas Pemikiran Gus Dur ini dikemas secara dialektis. Mereka membedah bagaimana pemikiran Gus Dur dapat diimplementasikan untuk menjawab tantangan lokal di Majalengka, mulai dari isu lingkungan hingga penguatan ekonomi kerakyatan.
Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang keyakinan dan organisasi menunjukkan bahwa daya tarik sang “Presiden Rakyat” tersebut masih sangat kuat dalam menyatukan perbedaan.
Melalui kelas diharapkan lahir para penggerak baru yang memiliki kedalaman berpikir dan ketajaman analisis, namun tetap rendah hati dalam aktivitas sosial. ****

Comment here