OPINITravelWISATA

Rencananya, Masjid Secantik Puncak Bogor Siap Dibangun di Panyaweuyan

Oleh: Diana Ha

MAJALENGKA – macakata.com – Pemerintah Kabupaten Majalengka berencana membangun sebuah masjid di lokasi terasering Panyaweuyan Kecamatan Argapura. Bangunan secantik masjid mungil bernama Atta’Awun di jalur Puncak Bogor itu akan diadopsi dan diterapkan di kota ini, pada saat perencanaan maupun proses pembangunannya kelak.

Masjid mungil dengan nuansa pegunungan tersebut, rencananya akan dibangun bersama lima masjid lainnya, di sejumlah titik, di lokasi obyek wisata yang ada di titik strategis nuansa alam Majalengka.

Tujuan pembangunan masjid tersebut sengaja diagendakan, sebagai upaya mewujudkan Majalengka dari sisi religius. Sebagai pelengkap dari motto Majalengka Raharja.

Ungkapan ini memang baru sebatas ucapan lisan. (Mungkin juga sudah tertulis rapih dalam perencanaan pembangunan). Diungkapkan oleh orang nomer satu di Kabupaten Majalengka (Bupati). Waktu itu, beliau hadir dalam acara musyawarah daerah (Musda) ke-8. Musda yang ditulis di spanduk dengan angka romawi VIII ini — Kenapa juga ditulis memakai tulisan angka Romawi– bukankah kita punya angka dan abjad sendiri? Atau kenapa tak memakai huruf Arab sebagaimana yang sering diajarkan di setiap pesantren? Tak usah dijawab. Itu hanya urusan panitia. Tak penting juga dibahas kan? Faktanya ada jam tangan yang masih disukai dengan angka-angka Romawi itu. Hehe.

Kembali ke soal masjid. Rencana pembangunan masjid mungil dengan mengadopsi gaya maupun arsitektur Masjid Atta’Awun di jalur Puncak Bogor itu, yang harus disikapi adalah, soal kondisi tanah di area Panyaweuyan. Saat ini saja, jalur Jatilima, setiap kali hujan besar, dengan intensitas cukup lama dan padat disertai angin, (terkadang) selalu ada longsor tanah dari bagian atas, karena tak kuat menahan gempuran air hujan yang terus menerus.

Tanah miring di pelintasan Jalur Jatilima ini memang gembur, terlampau sangat subur. Namun, karena kaget, dan tadinya banyak pepohonan besar, yang saat ini ditebang karena pelebaran jalan dan pembangunan Jatilima, maka longsor menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diantisipasi ke depannya.

Di terassering Panyaweuyan Argapura Majalengka Jawa Barat, saat ini memang belum terlihat ada bangunan masjid maupun mushola yang berdiri gagah. Namanya nanti mau masjid atau mushola, itu tergantung cara pandang orang. Cenah, lamun bangunanna leutik eta disebut mushola, sanes masjid. Tapi kalau pun mau disebut Masjid, tak masalah, yang penting nanti berfungsi sebagaimana mestinya. Dan, yang jelas, jangan sampai dijadikan tempat mesum. Serta sebagai antisipasi, harus ada penjaga.

Penjaganya, jika boleh saya menyarankan, harus yang sudah berkeluarga. Mengingat, jalur Jatilima dan terasering Panyaweuyan ini bercuaca sangat dingin, menyerupai Kuningan dan Bandung. Sehingga, jika penjaganya hanya satu orang, tak ada teman yang menemani ngobrol, dikhawatirkan banyak yang tidak akan betah.

Bisa dicek dimanapun, sebagian masjid atau mushola yang terawat selalu ada Penjaganya. Dan penjaga yang baik adalah yang sudah berkeluarga. Namun, sebagian besar penjaga masjid biasanya laki-laki dan bisa sendirian. —Itu karena mereka tinggal di kampung sendiri.

Sisi religius dari Majalengka Raharja memang harus diwujudkan, bukan sekedar slogan dan motto. Oleh karenanya, saya mendukung rencana pembangunan masjid di area Panyaweuyan. Karena pengendara motor dan mobil yang lewat di jalur Jatilima Panyaweuyan itu, pastinya akan senang melepas lelah, sambil bertafakur di masjid nan cantik. ***

— Penulis adalah penyuka travelling, penikmat kuliner dan pengelola taman baca/perpustakaan

Comment here