BERITABISNISScienceWorld

Kian Jaya Madu, UKM Majalengka yang Merambah Pasar Luar Pulau Jawa

MAJALENGKA ‎– macakata.com – Botol-botol dan jerigen itu tertata rapih dalam ruangan yang bersih. Isinya adalah madu alam yang didapat dan diproduksi oleh petani lokal.

Semua madu yang telah terkemas dalam botol dan jerigen itu, berada dalam sebuah kios di pinggir jalan raya Palasah-Jatiwangi Kabupaten Majalengka (Cirebon-Kadipaten-Bandung).

Letak kios itu tidak jauh dari sekolah SMK Palasah dan dekat dengan jembatan Cisambeng.

Ditemui di kiosnya itu, pemilik dan pengelola Kian Jaya Madu tengah asyik bersiap untuk mengemas satu jerigen madu ukuran satu kilogram.

Mula-mula, ia memasukkan jerigen ukuran satu kilogram itu ke dalam plastik transfaran. Lantas melakbannya.

Tak cukup begitu, lalu, dibungkus lagi dengan plastik yang disebut bablewaf. Sebuah plastik hitam yang elastis bergelombang, berfungsi untuk menahan tekanan dari luar.

Setelah terbungkus, pengemasan terakhir menggunakan kotak kardus, yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran botol atau jerigen.

“Ini untuk dikirim ke luar pulau Jawa, ke Makassar,” ujar pengusaha Kian Jaya Madu, Mohammad Habibie, Senin, 13 Desember 2021.

Habibie telah menekuni usaha madunya itu sejak dua belas bulan yang lalu. Sudah setahun berjalan.

Memasuki tahun kedua, Habibie telah menancapkan usaha Kian Jaya Madu-nya menjadi lebih tertib dan termenej. Ijin PIRT telah keluar.

“Tahun 2022, UKM Kian Jaya Madu sudah kuat dalam hal adminstrasi, PIRT-nya sudah ada,” ujarnya.

Selain kiriman ke Makassar, Habibie juga pernah mendapatkan orderan madu sebanyak lima kilogram untuk dikirimkan ke Aceh.

“Bulan lalu, saya dapat order dari orang Aceh. Itu suatu kebanggaan. Ini potensi UKM lokal yang menjanjikan,” ungkapnya.

Diantara madu yang paling pavorite dan banyak dipesan, yakni Madu Akasia. Rasanya yang sedikit ada asam-asamnya itu terasa menyegarkan di lidah.

“Madu Akasia cukup banyak dipesan, sebulan bisa nyampai 120 kilogram pesanan madu,“ ucapnya.

Singkat cerita, Habibie mengawali usaha madu-nya itu berawal dari ikhtiarnya untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya, yakni asam lambung.

“Setahun lalu, sebelum saya menikah saya punya asam lambung. Lalu saya coba konsumsi madu dengan cara datang langsung ke petaninya, karena saya ingin madu yang asli. Kemudian, sebulan sembuh, sejak saat itu saya kepikiran dan bertekad bisnis madu,” ungkapnya.

Habibie kini semakin oftimis. UKM madunya itu sudah disuport oleh pemerintah daerah. Terpenting dari berkah usahanya, yakni kesehatannya yang senantiasa terjaga dan terawat.

“Kami panen setiap bulan, biasanya setiap 20 hari sekali,” ujarnya.

Semenatara itu, pelanggan setia Kian Jaya Madu, Ade mengatakan, meski dikemas dalam bentuk botol dan jerigen plastik, namun rasa dan wangi madu alaminya tetap terjaga.

“Saya pernah diajak langsung ke lokasi ternak ketika panen madu, itu benar-benar madu alam,” ujarnya. (MC-03)

Comment here