BISNISEKONOMITravelWorld

Aktivitas Baru Warga, Rela Antre Demi Dapat BBM Subsidi

MAJALENGKA – macakata.com – Biasanya, antrean untuk membeli bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi itu akan terjadi sebelum diberlakukannya kenaikan harga. Fakta menarik saat ini yang masih terjadi, dan dapat disaksikan langsung, antrean untuk membeli BBM, terutama BBM jenis Pertalite, nyatanya, nyaris setiap waktu, baik malam, siang, pagi ataupun sore, selalu terlihat antrean mengular di setiap SPBU yang ada di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Kondisi dan situasi seperti ini, dirasakan menjengkelkan, lebih banyak waktu terbuang percuma, karena menunggu antrean untuk mendapatkan BBM bersubsidi jenis Pertalite. Saking kesalnya, bahkan ada pengendara motor yang sudah setengah mengantre di pertengahan menuju pengisian, dia malah pergi menuju stand pengisian Pertamax. ‎Namun, kebanyakan pemotor lebih rela antre untuk bisa mengisi Pertalite.

Dalam orolan bersama sejumlah pengendara motor yang ditemui ketika antre, warga Majalengka ternyata lebih suka mengantre, karena perhitungan kalkulasi matematika. Kini, harga BBM bersubsidi jenis Pertalite ada di angka Rp10 ribu. Sementara jika membeli Pertamax lebih dari empatbelas ribu untuk satu liter.

“Perbandingannya itu cukup ‎jauh, bedanya bukan seribu dua ribu. Saya kini biasa beli full jenis Pertalite, itu bisa di angka Rp30 sampai 35 ribu, motor saya masih motor jadul,” ujar pengendara bernama Willy, 34 tahun, warga Cigasong Majalengka, Kamis, 15 September 2022.

Pengendara motor warga Majalengka lainnya, Rizqi mengatakan hal yang sama. Ia sendiri lebih baik mengantre untuk bisa mengisi tangki motornya dengan BBM bersubidi jenis Pertalite. Ia kini tidak lagi mengisi di Pom mini, karena di toko bensin kecil itu hanya menyediakan Pertamax yang harganya juga jauh lebih mahal.

“Kita ngisi tangki motor, jadinya dua hari atau tiga hari sekali. Sekali ngisi langsung full. Kalau gak begitu, habis waktu saya buat ngisi BBM ini. Waktunya itu selalu ngantre, saya pernah mencoba pagi hari tetap ngantre, siang hari masih ngantre. Malam hari saya coba ngantre tetap panjang antrean itu,” ujarnya.

Salah seorang pedagang keliling yang menggunakan motor sebagai armada jualannya, Feri mengatakan, saat ini aktivitas barunya yang mengesalkan itu yakni mengantre di SPBU untuk membeli BBM bersubsidi. Ia mengaku rela mengantre pada malam hari, supaya besok pagi ia leluasa jualan tahu dan tempe.

“Wahh repot saya kalau saya ngisi pagi hari semisal jam 06.00 pagi, itu antrean yang mau ngisi dan mau dapat Pertalite sudah banyak, antrean mengular. Pelanggan saya bisa kabur kalau saya kesiangan. Makanya, saya sempatkan waktu malam hari antre di SPBU, itu butuh waktu setengah jam lebih. Awal-awal sesudah ketok palu kenaikan harga BBM, bahkan saya ngantre satu jam lebih,” ungkapnya.

Antrean panjang mengular di hampir setiap SPBU yang ditemui, fakta menarik lainnya yakni, meski dearah atau wilayah Kabupaten Majalengka tidak mewajibkan untuk mendonlod mypertamina, namun, si petugas pengisian BBM bersubsidi di stand pengisian Pertalite, faktanya mencatat nomor-nomor kendaraan‎ polisi (nopol) yang ada dalam plat motor kendaraan warga.

Si petugas yang ada di stand pengisian BBM bersubsidi jenis Pertalite, kini ada dua petugas. Yang satu menyebutkan nopol kendaraan motor yang akan diisi, petugas lainnya menginput data nomor nomor kendaraan itu ke ponsel, yang memang tersedia di dekat stan pengisian. SPBU lain ada juga yang masih manual menggunakan catatan kertas dan pulpen. Si petugas SPBU mencatat di kertas buku khusus, isinya sudah pasti ribuan nopol kendaraan bermotor, setiap harinya.

“Yang membuat lama antrean itu, salah satunya ‎karena saat ini, setiap yang beli BBM bersubsidi dicatat nomor-nomor kendaraannya. Saya hitung setiap kali ngantre, satu motor menghabiskan waktu lebih dari satu menit. Padahal dulu, kurang dari satu menit sudah beres, langsung berganti ke motor lainnya yang antre,” ujar warga Majalengka lainnya, Wiwin.

Pemilik toko yang menyediakan Pom Mini di wilayah Kabupaten Majalengka, Ujang mengatakan, sejak Pertalite naik harganya menjadi Rp10 ribu. Ditambah ada larangan untuk membeli Pertalite memakai jeriken, maka dengan terpaksa untuk berjualan bensin di Pom Mini, dirinya harus membeli Pertamax. Hanya saja, harga Pertamax saat ini sudah lebih dari empat belas ribu.

“Saya jual lebih dari empat belas ribu. Itu rumus. Tapi kini memang konsumen saya entah menghilang kemana. Jarang sekarang warga beli ke Pom mini, karena perbandingan harganya dengan Pertalite juga sangat jauh. Sepi sekarang mah Pom Mini juga. Kalau dulu, saya belanja ke SPBU itu hampir setiap hari. Sekarang mah, empat hari baru belanja lagi,” ungkap pemilik Pom Mini di Kabupaten Majalengka.

Akibat ada pencatatan nopol kendaraan dalam setiap pengisian BBM bersubsidi, motor-motor bodong yang tak ada nopol kendaraannya, kini tidak terlihat lagi di setiap antrean SPBU.

“Susah sekarang mah kang, pernah mau ngisi awal-awal kenaikan BBM, itu ditanya soal nopol, juga ada pak polisi berjaga, jadi malu, padahal bukan gaya, ini karena saya belum mampu beli motor bagus dan baru, ” ungkap warga Majalengka yang minta namnaya tak disebutkan. (*)

Comment here