OPINIPENDIDIKAN

Diskusi Asyik tentang Disabilitas Bersama Fahmina Institute di Majalengka

MACA – Fahmina Institute menyelenggarakan diskusi cukup mengasyikan di wilayah Kabupaten Majalengka. Kali ini, membahas tentang semua hal yang berkaitan dengan disabilitas yang dikaitkan dengan situasi ke-Majalengka-an.

Acara ini dimoderatori oleh aktivis perempuan yakni Intan Damayanti. Sementara dari Fahmina Institute dipandu oleh Mbak Alif.

Fokus diskusi tentu saja membahas tentang semua hal yang berkaitan dengan penanganan, sikap, fasilitas, kendala yang dihadapi, serta ‎kendala-kendala yang dialami oleh disabilitas di Majalengka.

Kata kunci yang paling urgen, yang tentu saja menjadi kosakata baru bagi saya, yang kebetulannya menjadi peserta diskusi, sama dengan pihak lain seperti dari Dinas Sosial, Dinas UKM, Kemenag, Dinas Pendidikan, Bakesbangpol, KPU serta sejumlah komunitas yang konsen dan berkaitan langsung dengan disabilitas.

Nyatanya, sebutan normal dan tidak normal harus kita hilangkan jauh-jauh, jangan diucapkan atau (apalagi jika) dituliskan. Karena sebetulnya, kalangan disabilitas itu adalah orang normal. Jadi berhenti bilang atau berhenti mengatakan normal dan tidak normal. Katakan saja disabilitas dan non disabilitas. Itu lebih bisa diterima oleh semua pihak. Dan kosakata ini lebih aman, serta terdengar lebih bersahabat.

Kemudian, ada masukan juga untuk panitia, atau siapapun yang mau mengundang kalangan disabilitas ke suatu acara. Yakni, harus melibatkan disabilitas lainnya, agar mereka pun ada teman bicara yang lebih bersahabat. Serta, harus melibatkan penerjemah, karena siapa tau, ada disabilitas untuk kategori tunarungu.

Bahkan, dalam urusan atau acara-acara resmi, misalnya dalam konfrensi pers di kepolisian, itu sudah mulai mengundang dan melibatkan kalangan disabilitas. Sudah diakui dan menjadi berdaya dalam pelibatan semacam itu, maka itu sudah menghargai kalangan disabilitas terutama untuk kategori itu.

Kemudian, ada masukan pula untuk KPU. Bahwa ketika ada momen job pelipatan kertas suara misalnya, maka diharapkan, KPU bisa lebih merangkul kalangan disabilitas dalam memberdayakan pelipatan kertas suara. Itu sudah dilakukan pada momen pemilu tahun 2019 lalu. Hanya saja kuotanya hanya sedikit. Harapannya, agar melibatkan kalangan disabilitas lebih banyak lagi kuotanya.

Sebagai catatan, kalangan disabilitas juga banyak yang berprestasi. Sehingga dalam momen-momen tertentu, semacam ‎pertandingan olahraga, ada sebagian kalangan disabilitas Majalengka yang telah berprestasi.

Untuk diketahui bersama, bahwa, yayasan Fahmina Institute, saat ini telah punya sekolah khusus disabilitas. Tempatnya berada di wilayah Cirebon. Hanya saja masih tingkat Sekolah Dasar (SD).

Demikian hasil diskusi, atau catatan kecil ketika menghadiri acara diskusi yang berlangsung di salah satu rumah makan di wilayah perkotaan Majalengka.‎ ( Diana Ha)

Comment here