MAJALENGKA – Saat kondisi keuangan sedang tak baik-baik saja, sementara seorang anak lelaki sudah waktunya untuk dikhitan atau disunat, maka Sunatan Keluarga hadir sebagai solusi.
Di Kabupaten Majalengka, ada satu keluarga yang telah diam-diam, tanpa promosi dan iklan, melaksanakan program khitanan untuk keluarga lainnya untuk melaksanakan sunatan bagi anak lelakinya.
Keluarga yang punya gagasan dan konsep “sunatan keluarga”ini menjamin tanpa biaya, alias gratis. Bahkan, si anak yang telah disunat atau dikhitan pulang dengan membawa bingkisan, paket obat juga angpau untuk sang anak.
Ironisnya, penggagas “sunatan keluarga” ini terbilang kategori keluarga biasa saja. Bahkan tercatat, pekerjaannya hanya honorer di salah satu OPD di lingkungan Pemkab Majalengka. Keluarga baik hati ini yakni bapak Dede Eka Ahmad Mulya beserta sang istri yakni ibu bidan Yeni Anita Saharah.
“Alhamdulillah sudah sejak tahun 2017 lalu, program Sunatan Keluarga ini telah berjalan. Pesertanya selalu ada, berasal dari desa dan kecamatan berbeda, ” ujar Dede Eka, saat ditemui di sela- sela kesibukannya menggelar hajatan sunatan keluarga di lingkungan Kamulyan Cibasale Kelurahan Majalengka Kulon, Sabtu, 4 April 2026.
Dede Eka menambahkan sunatan keluarga akan segera berlangsung ketika keluarga lain mendaftar. Uniknya calon peserta sunat atau khitan harus menentukan sendiri waktu dan tempatnya, sesuai dengan kenyamanannya masing-masing.
“Waktu dan tempat diserahkan pada keluarga yang anaknya mau disunat. Pokoknya senyaman mungkin, ” ungkapnya.
Dalam satu bulan, ketika sudah ada keluarga yang mendaftar minimal dua atau tiga anak, maka sunatan akan segera digelar dan ditentukan waktunya. Di bulan ini tercatat ada 7 anak (keluarga) yang telah disunat. 5 di lingkungan sekitar rumah, satu dari Kulur dan satunya lagi dari Perum BCA.
“Kebetulan untuk bulan ini tempatnya di rumah kami. Ada lima anak dari lingkungan sekitar rumah, dua lainnya dari Kulur dan perum BCA, ” ucapnya.
Keluarga Dede Eka dan Bidan Yeni merasa bersyukur karena dapat membantu anak-anak melaksanakan sunat. Dede Eka sendiri merasa terpanggil untuk terus melakukan program “sunatan keluarga”. Ia merasa ” Dendam ” Karena cita-citanya tidak tercapai.
“Impian saya jadi mantri atau dukun sunat dulu tak tercapai. Namun, ada solusi yang bisa saya lakukan, yakni saya bisa mengkhitankan anak-anak lain. Free alias tanpa biaya. Cukup bayar dengan doa” ujarnya.
Konsep yang diusung “sunatan keluarga” Ini yakni untuk tetap menjaga rasa hormat keluarga yang dikhitan maupun keluarga yang punya gagasan.
“Kami ingin dalam hidup ini ada nilai manfaat kebaikan dan berkah untuk masyarakat banyak, tanpa memberatkan keluarga lain,” tandasnya.
Ketua RT setempat, Dede Supriatna mengatakan pihaknya merasa terbantu dengan adanya program “sunatan keluarga” ini karena tanpa memberatkan keluarga lainnya.
“Apalagi saat ini di tengah efisiensi. Keluarga yang punya anak lelaki dan sudah waktunya disunat, sangat terbantu sekali, ” ungkapnya.
Sebagai RT pihaknya mengapresiasi, namun juga kagum, karena ada warganya yang punya konsep memudahkan keluarga lainnya untuk bisa melaksanakan sunat bagi anak lelakinya.
“Awalnya saya kaget, karena sepengetahuan saya keluarga pa Dede dan ibu bidan Yeni ini, anaknya kan perempuan masa dikhitan. Namun ternyata beliau punya program untuk keluarga lain, mengkhitankan anak lelaki dari keluarga lain,” ucapnya. (Acil Erik)

Comment here