Oleh: Rendy Jean Satria
“Aku bangkit dari kursi panjang
Dengan kepala yang sakit
Aku merasa ada maut”
(Puisi Atasi Amin berjudul ‘Bisikan’
dikirim via WA tanggal 15 Maret 2021)
MACAKATA.COM – Bulan Maret. Siang hari – pintu rumah ada yang mengetuk. Saya buka, ternyata penyair Atasi Amin. “Wih, ada penyair, puitis sekali nih, kita ngopi siang-siang ”. kata saya, sontak, sambil diselingi gelak tawa. Atasi– memang kerap datang mendadak ke rumah. Pertemuan dan komunikasi kami dalam tiga bulan terakhir sangat intens. Terhitung semenjak saya mengirim pesan via WA, jika puisi-puisi kang Atasi, yang belum pernah tersiar segera dibukukan. Atasi, juga kerap mengajak saya ke Studio Jeihan hanya untuk minum kopi di dekat makam pelukis Jeihan Sukmantoro, bapak dari Atasi.
Semenjak membahas karya puisi-puisinya, Atasi jadi semangat dan membawakan beberapa puisi-puisi terbarunya. Atasi Amin, adalah penyair senior kota Bandung namun sikap kerendahatiannya membuat siapapun yang dekat dengan dia jadi merasa akrab. Dia tidak melihat saya sebagai juniornya dalam dunia puisi – tapi sebagai karib dialog, sehingga dia tidak sungkan memberikan dan meminta masukan terhadap puisi-puisi barunya terhadap penyair yang lebih muda darinya.
Ada sekitar belasan puisi Atasi Amin yang belum pernah dipublish katanya, yang diberikan ke saya – sebagian saya simpan – untuk arsip dan sudah menjadi kebiasaan saya – berikut tulisan tangan sang penyair.
Menurut penuturannya puisi-puisi yang diberikan kepada saya, dia cari dihardisk-hardisk lamanya dan dibuku catatan di lemari yang sudah lama dia tidak buka lagi. “Ketemu, alhamdulillah, puisi-puisi saya di buku tulis ” bunyi pesan WA kang Ata, jam 2 malam.
Besoknya Atasi, kembali datang ke rumah (tanpa WA terlebih dulu) membawa lebih banyak puisi-puisi yang sepertinya belum selesai ia tulis – sebagian tidak ada judul. “Saya jadi semangat menulis kembali, kemarin mah, saya sempat mandek urusan ini-itu, sampai lupa kalau saya penyair, hahaha. Malam tadi aja saya tidur jam 3 dini hari, menulis puisi” kata kang Ata.
“Akhir-akhir ini saya jadi banyak bermimpi tentang bapak (almarhum Jeihan)” ujarnya lagi. Obrolan pun berlanjut ke puisi-puisi kang Ata.
Ada tiga atau empat puisi barunya, diberi judul saat dia bertandang ke rumah seperti puisi berjudul Di Bis Kota, Laut dan Perahu, La Vie En Rose, Sein, Museum Van Gogh, dan Tempat Masuk Keluar Roh. Di tengah-tengah obrolan, Atasi kembali bilang “Saya mimpi bapak, saya mau menulis puisi tentang bapak, nanti di rumah”. Hening kemudian.
Seterusnya, dalam rentang April dan Juni – kang Ata, kerap mengabari beberapa puisi-puisinya. Kadang ada puisi yang baru dikirim, lalu direvisi seketika via WA. Seperti baris-baris puisinya yang bunyinya:
Kadang aku ingin punya masa
Untuk diri sendiri, sendirian
Dan tidur lama
Lain waktu dia juga mengirimkan lagi, puisinya yang berjudul ‘Awan”:
Awan menarik dipandang
Awan selalu lembut
Awan janji akan menaungi
Bahkan ketika bau sigaret dan menua
Beberapa hari kemudian, saat Atasi Amin sedang dalam perjalanan ke Jakarta kembali menghubungi saya, kali ini dia menelepon, “Saya lagi di Jakarta, antar anak saya” sangat jelas suara kang Atas di seberang sana, sedikit terengah-engah. selang 10 menit, Atasi kembali mengirimi baris-baris sajak lagi.
Tubuh terlentang
Dengan kepala yang sakit
Ada suara-suara yang menganggu
Atasi juga mengirimi puisinya berjudul ‘Korona’. Berikut salah satu baris puisinya bunyinya:
Korona memang ada, kematian juga
Setiap hari dihujani berita duka
Lagi pula siapa yang mau korona
Dengan begitu banyak alkohol.
Dan masih banyak lagi, Atasi mengirimi puisi-puisinya untuk didiskusikan. Yang di kemudian hari,sebagian besar puisi-puisi Atasi itu dimuat di majalah SENI edisi bulan Juni 2021.
Di saat pertemuan dan komunikasi kami yang intens, Atasi Amin banyak becerita tentang proses kreatifnya, masa mudanya, dan sampai urusan yang sangat privat. Dia mulai kembali mengingat nama-nama penting yang mempengaruhi jalan kepenyairannya, seperti Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bahri, yang menurut kesaksian Atasi, tiga penyair itu sering datang ke rumahnya di Cicadas pada tahun 70an, saat Atasi masih berumur enam tahun. “Pas masih SMA, puisi saya sering dikritik sama pak Sapardi, kalau nulis puisi tuh kayak gini, Ta” kenang Atasi. “Saya kan berbeda gaya ucap puisinya, sama Sapardi, ya engga bisa harus sama kayak model Sapardi. Semenjak itu saya engga ngasih puisi saya lagi ke pak Sapardi”
Beberapa kali, saat ada pertemuan acara penyair Jawa Barat pun, saya dan Atasi Amin selalu ditempati satu kamar dan biasanya saya selalu melihat Atasi Amin, sholat malam. Saya juga pernah melihatnya membuka buku tulisnya, dan menulis apa yang terlintas. Atasi termasuk penyair yang ketika ada ilham datang – dia langsung menulisnya bisa lewat buku tulis maupun noted smartphone.
*
Atasi Amin, lahir di Bandung 21 Juni 1966. Beberapa karya puisinya bermunculan di H.U Pikiran Rakyat, Jurnal Puisi, Jurnal Renung, Media Indonesia dan sebagian juga terbit di media online, antologi bersama seperti kumpulan puisi Laut Merah dan Muktamar. Menurut Atasi, dia pertama kali menulis puisi saat kelas 4 SD. Buku puisi tunggalnya berjudul Ke Pintu dan Potret Diri. Selain menulis, Atasi juga menjadi bagian penting dari berjalannya galeri Jeihan di daerah Padasuka, dan banyak membantu para seniman, terkhusus para penyair-penyair di Bandung dalam berkegiatan sastra dan puisi.
Dari dalam hati saya yang paling dalam saya kagum dengan sosoknya – anak sulung dari pelukis besar Indonesia ini – begitu sangat sederhana dari tutur kata dan perilakunya. Ketika kawan saya, Zulkifli Songyanan dan Wanggi Hoed, mengabari kalau Atasi Amin meninggal dunia, pada hari Minggu, 25 Juli 2021, di RS. Santosa Bandung, hati saya sangat sedih mendengar berita duka itu. Karena beberapa bulan terakhir menjelang kematiannya, Atasi lagi sangat semangat mengumpulkan puisi-puisinya untuk diterbitkan.
Kata-kata Atasi Amin, kembali terngiang “Saya mimpi bapak, saya mau menulis puisi tentang bapak, nanti di rumah”. Puisi Atasi Amin untuk bapaknya (almarhum Jeihan) memang sudah jadi dan sudah tersiar di media SENI edisi bulan Juni 2021 (sebulan sebelum beliau menghembuskan napas terakhirnya). Atasi mengabari kepada saya via DM Instagram. Puisi itu berjudul Tempat:.
Jeihan
Berada di dua tempat yang berbeda
Sekaligus di waktu yang bersamaan
Mungkin kau mengira aku gila
Atau tak masuk di akal
Berada di dua tempat yang berbeda
Sekaligus di waktu yang bersamaan
Aku dipasang infus di rumah sakit
Atau sedang menggambar museum
Di waktu yang bersamaan
Percayalah aku tidak mati
Kini, penyair yang sangat rendah hati yang ketika hari Jumat, sering membantu banyak masjid, anak yatim, dan panti asuhan telah berpulang, bertemu dengan bapak yang sangat dia cintai. Semoga Atasi Amin, mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Selamat jalan kang Atasi. Al-Fatihah…
Buah-Batu, 25 Juli 2021
Penulis adalah Penyair dan Kolomnis

Comment here