OPINI

Penjara Mewah Rumah

Mewah Sekali Rutinitas Kita Saat Ini

MACAKATA.COM – Di tengah wabah pandemi global Covid 19 ini, siapa bilang rutinitas itu tidak penting? Sangat penting pada situasi social distancing ini. Orang super kaya sekalipun butuh aktifitas. Rutinitas yang nyaman bagi dirinya. Saya baru mengalami, sensasi ini, mewah sekali rasanya. Seperti penjara dengan berbagai fasilitas.

Status nyaris Lockdown ini, agar kerja ‎di rumah saja, telah cukup membuat semua orang berpikir ulang tentang konsep kerja dan kenyamanan dirinya. Termasuk yang sudah biasa kerja di rumah.

Sebutlah saya, penulis biasa, yang mencoba untuk membuat karya tulis, video berkualitas, konten menarik, rupanya cukup terganggu dengan situasi social distancing ini.

Anak-anak yang tadinya sudah pergi ke sekolah sejak pukul 07.00 dan pulang jam 12.00 WIB atau lebih, kini mereka ada di rumah. Situasi ini telah cukup mengganggu rutinitas belajarku di depan komputer.

Teriakan tanya tentang tugas yang diberikan sang guru, membuatku, membuat mamahnya, ikut membantu. Sebetulnya kami hanya mengarahkan. Tapi repotnya minta ampun.

Situasi ini menimbulkan kegembiraaan sekaligus kerepotan. Sisi lainnya, ketika mereka, anak-anak kami tertidur. Kami mengeluh dan baru tau tentang tugas seorang pendidik. Begini rasanya jika mendidik anak. Satu saja repotnya bukan main. Saya lupa tentang tugas guru. Tapi kali ini, kami merasakan langsung dan sangat berterima kasih pada para guru.

Jika tak ada social distancing, tak ada virus Covid 19, situasi ini tak akan kami rasakan. Situasi ini membuat kami sadar diri. Penyelarasan dan penyesuaian kini diberlakukan.

Saya jadi bertanya-tanya, pentingkah rutinitas? Sangat penting. Bahkan di sisi seorang pendidik sekalipun. Mereka merancang tugas yang sekiranya terjangkau dalam pola pikir anak pada usia tersebut. Disesuaikan dengan anak umur dan kesiapan. Saya memahami melalui terawangan dan menempatkan diri pada posisi guru. Dalam hal ini, saya acungi jempol untuk para guru yang telah mengajari, memberikan pengetahuan dan dedikasi waktunya.

Kini saatnya kami menyuplai pengetahuan dari sisi kami, pengetahuan yang langsung kami dapatkan via internet dan bahan bacaan. Lalu diterangkan kepada anak-anak kami. Di rumah.

Repot memang. Rutinitasku terganggu. Bahkan mamahnya, yang biasa masak dengan nyaman sambil mendengarkan musik pavoritnya, juga terganggu. Rutinitas memasaknya benar-benar tak seperti dulu, yang tidak pernah terganggu.

Luar biasa virus corona ini. Beragam kegiatan yang bersifat massal ditunda. Persiapan nikah yang sudah ditetapkan tanggal pernikahannya pada akhir Maret dan April nanti, gamang. Mereka harus membatalkan atau lanjut dengan cara membatasi orang-orang yang hadir dalam resepsi itu.

Rutinitas sangat penting. Bagi siapapun yang tak punya hoby, diam saja di rumah adalah suatu kebosanan yang sia-sia. Ada yang menuliskan, kebosanan bisa membunuhmu. Yupz, begitulah. Jadi lupakan pepatah bagus yang mengatakan, “Keluarlah dari rutinitas!” Saat ini justru, rurinitas kita terkekang. Rutinitas kita sangat mahal.

Seperti penjara tanpa jeruji. Untunglah saya bukan kalangan berduit mewah. Dalam waktu tertentu saya keluar rumah untuk mencari nafkah.‎ Sama seperti pedagang kaki lima. Sama seperti tukang bakso. Sama seperti tukang rujak. Kami bukan kalangan bergaji. Sehingga, keluar rumah untuk mendapatkan barokah rizqi-Nya, tetap harus dicari.

Betul, bahwa rizqi sudah ada yang mengaturnya. Tapi bagi kami, tanpa keluar rumah, sama saja dengan pepatah, “Jauh panggang dari api.” Maka, dengan memakai masker, yang saya dapat susah payah, mahal lagi, dengan Bismillah, saya keluar rumah mencari ridhonya.

Menulis di depan komputer hanya hoby. Para motivator itu bilang, investasi. Tapi bodo amat, pepatah motivasi itu, saat ini, kalah oleh urusan perut. Hukum rimba berlaku saat wabah Corona ini.

Mengutip selebaran yang ada di dunia maya, kalimat bagus dan positif datang dari Wali Kota Bogor, Bima Arya. Dia menulis bahwa ‎virus ini menyerang hati dan jiwa sebelum pernafasan dan paru-paru. Gua merasa baikan setelah menjalankan Social Media Distancing. Hari kedua di RS. Socmed itu ICU Raksasa. Runtuh mental semua orang kalau digempur berita Covid 19. Drop Imunitas.” Tulisnya.

Masalah menjadi berlipat dan tak masuk akal. Ketika kebanyakan kita di rumah-rumah, kegiatannya hanya membuka FB, Instagram, Tweet, Tik Tok, Video Call, aktifitas rutinitas yang sebetulnya, tanpa ada social distancing sekalipun, tanpa ada wabah virus Corona sekalipun, itu sudah dilakukan di kantor-kantor, mall-mall, fasilitas umum. Oleh kita semua di zaman milenial ini.

Bahkan ketika ngopi ngawangkong sekalipun, tangan-tangan kita selalu memegang hape. Asyik berchat dengan si dia, yang entah dengan alasan apa kita terhibur. Padahal hanya untuk tujuan mengenal dan menghilangkan kebosanan.

Sisi lainnya, menonton dan membaca. Sabado teuing dengan kualitas konten, yang penting tertawa, bahagia di depan ponsel android.

Rutinitas itu ternyata terganggu. Di rumah saja dengan rutinitas itupun, saat ini cukup terganggu. Apalagi, pasar-pasar mulai sepi. Orderan resepsi pernikahan seperti orderan memasak, orderan tukang merias, mendekor, semuanya harus gigit jari. Dibatalkan karena pengumuman wabah yang cepat menyebar dari jarak satu meter itu.

Selamat datang di dunia wabah. Konon, katanya, tak berdasar, tapi di internet sudah banyak beredar, konspirasi virus ini akan terulang. Entahlah. Dalam periode tertentu, virus akan muncul dengan kesamaan gejala dengan kasus terbaru.

Entahlah, sebagian pengamat dan pemerhati ekonomi bilang, ini bagian dari masalah, “subprime morgage ‎” istilah yang sering disebut oleh para ekonom. Duka teuing naon hartina. Yang saya ingat, istilah itu telah disebut dalam sebuah novel. Saya lupa penulisnya, tapi penulis beken dengan daya baca dan literatur yang tinggi.

Jadi ngelantur ya. Sudahlah. Social Distancing ini hendaknya dibarengi dengan diet informasi dan terus bergerak. Olahraga. Kita sudah kelebihan info dan kabar-kabar dari media sosial dengan wajah FB, IG, Twett. Sehingga kolesterol informasi membuat kita panik dan akhirnya darah tinggi.

Salam pagi. Mari berjemur untuk membunuh virus-virus. Jangan hanya melamun dengan dalih buka-buka medsos. Bergeraklah. Jangan sebut lagi nama virus itu. Hilangkanlah mulai saat ini. Berjemurlah dengan kalimat yang baik-baik saja. Virus pasti punah dalam waktu dekat.

*** Tukang Ulin. Tukang Maca. Tukang Nonton

Comment here