Ngalaksa Ini Rutin Dilaksanakan Setiap Bulan Muharram
MAJALENGKA – macakata.com – Desa Cipasung Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka Jawa Barat, melaksanakan prosesi tradisi ngalaksa yang kini sudah berusia 315 tahun.
Acara tradisi yang sudah turun temurun dilaksanakan ini, diharapkan bisa terus lestari, sehingga anak-anak generasi milenial, juga dapat mengetahui dan memahami, tentang pentingnya tradisi adat yang penuh lokalitas dan patut dijunjung tinggi itu.
Ngalaksa sendiri merupakan ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta, atas hasil panen yang melimpah. Syukuran ini bertujuan sebagai salah satu penghormataan terhadap leluhur Desa Cipasung.
Prosesi Ngalaksa ini kerap diperingati pada bulan Muharram. Giat acara adat masyarakat dan desa ini berlangsung dan dipusatkan di pinggir Situ Cikencong Desa Cipasung Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka, pada Senin, 07 September 2020.
Kepala Desa Cipasung, Cecep Koswara mengatakan, seluruh aparatur desa, sesepuh, para tokoh, masyarakat dan tamu undangan kumpul di Situ Cikencong dengan membawa Baliung. Baliung ini diangkut menggunakan dongdang. Masyarakat juga membawa makanan dari rumahnya masing-masing.
“Sebelum acara Ngalaksa dimulai, semua yang hadir berdoa bersama untuk mendoakan ahli kubur leluhurnya. Setelah itu Ngalaksa dilakukan secara gotong royong antara pemerintah desa dengan masyarakat.” ungkapnya.
Cecep menambahkan proses Ngalaksa dilakukan dengan cara digencet menggunakan cacadan oleh pihak desa dan masyarakat. Sekuat tenaga sampai berkeringat.
“Setelah digencet itu akan keluar laksa, yang nantinya, akan dibagikan dan dimakan bersama,” jelasnya.
Cecep berharap, setiap tahunnya yang bertepatan dengan bulan Muhharam, ucapan rasa syukur atas hasil panen tersebut tetap dilakukan. Hal ini sebagai upaya memelihara tradisi dan budaya Ngalaksa yang ada di desanya, agar bisa terjaga dan bisa turun temurun, tetap diteruskan sampai anak cucu.
“Jangan sampai tradisi yang sudah ada dan biasa dilakukan setiap tahun ini, pudar dan tidak dijalankan. Anak-anak muda harus tahu dan memahaminya,” ungkapnya.
Camat Lemahsugih, Deden Supriatna mengapresiasi kegiatan yang telah rutin dilakukan setiap tahunnya ini oleh warga Desa Cipasung. Tradisi ini harus terus dilestarikan, mengingat adat dan budayanya serta masyarakatnya yang masih kompak, serta punya potensi wisata religi.
“Lemahsugih juga sedang mengembangkan wisata religi. Alasannya, di sini banyak situs-situs, yang katanya peninggalan zaman megalitikum, jaman batu dan zaman Prabu Siliwangi.” ungkapnya.
Deden menambahkan tradisi Ngalaksa yang ke-315 tahun di Desa Cipasung harus tetap dilestarikan. Pihaknya akan segera melaporkan dan berkordinasi dengan pemerintah kabupaten.
Deden juga memuji kekompakan Karang Taruna Lemahsugih, serta berpesan agar selalu tetap menghormati masyarakat yang sudah sepuh.
“Sebagai regenerasi, mereka selalu bergerak ketika ada kegiatan apa pun, ini menjadikan langkah yang bagus untuk para pemuda ke depannya,” tandasnya. ( MC-02)

Comment here