OPINIWorld

Rakyat (Belum) Raharja

Oleh : Sadaya

MACAKATA.COM Р Sebetulnya, bukan hanya buruh yang belum sejahtera. Pedagang kecil, kaki lima, juga merasakan hal yang sama. Belumlah Sejahtera.

Inginnya sama sejahtera, seperti para pejabat, yang, ketika pandemi Covid-19 saat ini hartanya makin bertambah. Pejabat gituh loh. Terpenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, juga alat kebutuhan pendukung lainnya.

Bulan-bulan lalu, aksi unjuk rasa, demo, menyampaikan aspirasi, juga datang dari kalangan pedagang kaki lima.

Bila bicara tentang kenaikan upah, sebetulnya kaitan langsungnya adalah belum sejahtera. Termasuk para jurnalisnya, yang selalu menulis berita-berita terkini.

Sebagian besar jurnalis lokal belum sejahtera. Coba saja tanyakan kepada mereka yang menyandang profesi sebagai penyeimbang informasi itu. Namun, itu di luar jurnalis yang punya kantor di Jakarta sana ya.

Atau tanyalah kepada organisasi yang menaunginya. Juga tanyakan kepada perusahaan media-nya. Apakah betul-betul sudah menggaji kaum jurnalisnya?

Bila bicara tentang belum sejahtera, nyatanya, sebagian pejabat yang telah menerima gaji dan berbagai tunjangan itu, nyatanya sebagian mereka cenderung rakus, sebagian menguasai sejumlah proyek.

Dapat jatah atau minta jatah, istilahnya. Mereka ingin lebih sejahtera. Tapi mereka sejahtera. Makanya, wajar jika tempat mereka ngantor itu, selalu menjadi sasaran unras, unjuk rasa.

Istana negara, pendopo, gedung wakil rakyat juga sama. Itu tempat singgasana bapak atau ibu dari rakyat yang memilihnya. Wajar jika para demonstran datang dan berkumpul di depannya. Tuan aslinya adalah rakyat yang telah memilih mereka.

Banyak meme dan tulisan lucu sewaktu unjuk rasa itu. Salah satunya, membandingkannya dengan open BO. Kalian, ya pasti tau lah. Saya tak mau bahas open BO itu di sini.

Lebih tertarik bahas Raharja, satu kata yang sebagian besar masyarakat Majalengka-nya belum Raharja.

Raharja hanya untuk kalangan pejabat, mereka yang mendukungnya.Yang … kalian tau lah…golongan itu tuh.

Saya tak mau sebut nama ya, tapi kalian pasti faham lah. Terus, lagian, tak mengasyikan kalau saya sebut secara gamblang. Hehe.

Kembali ke soal sejahtera. Sejahtera itu berarti tinggal di sebuah rumah, bukan gedong juga, yang penting rumah sederhana. Punya kendaraan motor minimal dua. Satu mobil. Makan sehari tiga kali.

Bisa menabung dan menyimpan sedikit penghasilan. Bila itu terpenuhi, itu sejahtera secara ideal, menurut dan arti yang sangat sederhana. Menurutku.

Tolong jangan samakan dengan devinisi aslinya ya. Pasti salah jika harus berdebat dengan arti kata apa itu sejahtera. Ini bukan kolom diskusi tekstual ya, ini hanya opini asal sajah. Menyuarakan apa yang ada dalam isi kepala. Itu sajah. Dan, tolong jangan salahkan karena EYD-nya, tulisan ini … menulis kata saja, juga pakai H, sajah.

Rakyat memang belum raharja. Karena masih banyak yang pabeulit jeung meuli beas. Pabeulit jang meuli minyak, bawang, uyah. Bagi kalangan oposisi, Majalengka memang belum raharja.

Di kalangan birokrasi, apalagi yang dekat dengan beliau itu, yang kemana-mana selalu ikut. Tentu salam raharja menjadi gimmick yang selalu hadir, dalam acara seremonial.

Sesi foto seuasi kegiatan seremonial, ataupun kegiatan-kegiatan lainnya, selalu ada salam Raharja. Terlukis dalam memory foto.

Salam Raharja sambil mengepal tangan, selalu terdengar, selalu terlihat.

Namun, tadi siang yang cukup mendung itu, Rabu, 24 November 2021, sepertinya tidak ada salam raharja itu.

Mereka menuntut agar sejahtera. Kenaikan upah hanya kosakata yang dimunculkan saja. Asli tersirat kata itu, yakni ingin sejahtera, seperti upah/gaji yang ada di kota-kota besar sana.

Majalengka masih katanya yang akan menjadi metropolitan raya. Segitiga Rebana. Majalengka masih menuju untuk start kembali. Dengan beragam kendala dan potensinya yang dimiliki. ***

Penulis adalah warga Majalengka. Pandai memasak

Comment here