MAJALENGKA – MacaKata.com – Warga Desa Nunuk Kecamatan Maja Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, punya potensi wisata budaya Tenun Gadod. Keterampilan menenun di desa Nunuk ini tengah dipersiapkan regenerasinya.
Tenun Gadod pernah mendapatkan 100 nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia untuk kategori budaya tahun 2021 lalu, Desa Nunuk memang cukup menarik untuk dieksplorasi.
Letaknya yang tak jauh dari pusat kota Majalengka, hanya sekira lima kilometer ini, berada di bebukitan pegunungan yang bernuansa lembah.
Emak Maya, merupakan pewaris sekaligus senior pembuat kain Tenun Gadod di Desa Nunuk. Pada usianya yang 82 tahun itu, Emak Maya masih terlihat cekatan memintal dan menyusun benang menjadi sebuah kain.
“Proses untuk membuat satu kain Tenun Gadod ini paling cepat seminggu. Maklum usia emak sudah sepuh. Dulu, seminggu bisa selesai dua atau tiga kain,” ujar Emak Maya, saat ditemui di rumahnya yang tak jauh dari Balai Desa Nunuk, Sabtu, 11 Juni 2022.
Emak Maya menambahkan, hasil tenunnnya itu sudah banyak menerima pesanan dari luar daerah Majalengka, termasuk ada pemesan yang dari negara lain.
“Yang menjual dan memasarkan adalah tetangga dan saudara, ditambah kelompok komunitas. Alhamdulillah, doakan saja supaya Emak ini selalu sehat,” ujarnya didampingi anaknya.

Kepala Desa Nunuk Kecamatan Maja, Nono Sutrisno mengatakan, Tenun Gadod perlu dilestarikan dan dirawat. Oleh karenanya, setiap tahun selalu ada pelatihan untuk menularkan kembali keterampilan menenun Kain Tenun Gadod.
“Kita pernah mendapatkan anugerah sebagai desa wisata, yang dinilai adalah budaya menenun kain Tenun Gadod. Kita usahakan setiap tahun selalu ada pelatihan, supaya ada regenarasi,” ucapnya
Pohon Nunuk Berusia 6 Abad
Usia Pohon Nunuk ini lebih tua daripada hari jadi Majalengka yang baru berusia 532 tahun.
Pohon Nunuk yang menjadi nama desa di wilayah Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat ini, tetap dilestarikan dan diperbanyak serta ditanam ulang.
Namun, satu pohon Nunuk di Desa Nunuk Kecamatan Maja ini, usianya sudah lebih dari 600 tahun. Tetap terawat dn dijaga serta dilestarikan. Tidak ada berkas dokumen yang menunjukkan bahwa pohon Nunuk paling tua itu, berumur enam abad.
Tokoh masyarakat dan sesepuh di wilayah Desa Nunuk menceritakannya turun temurun, sehingga sampai pada orang saat ini yang hidup di zaman digital, penuturannya masih sama.

Pohon Nunuk ini berada tak jauh dari Balai Desa Nunuk Kecamatan Maja. Tepatnya berada di Kampung Cipeucang RT/RW 03. Desa Nunuk sendiri baru menjadi desa dalam sepuluh tahun terakhir.
Kuwu atau Kepala Desa Nunuk, Nono Sutrisno mengatakan pohon Nunuk yang menjadi nama desa ini telah berusia 600 tahun lebih. Kondisi pohon Nunuk yang menjadi induk dan tak pernah mati itu, kondisinya masih tumbuh subur di lereng bukit Cipeucang.
“Kalau umur pasti dan detailnya Pohon Nunuk sih kurang tau, karena memang tak ada bukti dokumen atau penjelasan tertulis ke arah sana. Cuma dari beberapa penuturan sesepuh, pohon Nunuk itu sudah lama hidupnya dan hingga kini masih tumbuh,” ungkapnya.
Nono menambahkan, Pohon Nunuk yang berusia ratusan tahun itu pernah didatangi peneliti. Diambil sampel, daun, batang, kulit, buah dan akarnya.
“Pernah ada peneliti datang ke sini, hanya saja si peneliti itu belum datang lagi untuk menceritakan atau menjelaskan hasil penelitiannya,” ujarnya.
Tokoh masyarakat Nunuk, Bapak Enik (72) mengatakan pohon Nunuk tetap dijaga dirawat dan dibiarkan tumbuh. Tidak ada perawatan khusus terhadap Pohon Nunuk tersebut, hanya dibiarkan dan tidak diperbolehkan untuk ditebang.
“Tumbuh di tanah miring, sehingga fungsinya bisa menahan longsor. Kami di sini membiarkannya, tapi menjaganya jangan sampai ada yang menebang,” ungkap Warga Nunuk, Kabupaten Majalengka. (MC-09)

Comment here