MACA – Apa itu Ras? Atau Rasis? Berbedakah dengan Etnis? Kadang kita hanya tau mengucapkan dan mencatat atau menuliskan Ras Rasis dan Etnis. Seringkali kita abai makna dan sinonim dari tiga kata itu.
Ras bisa diartikan merupakan konsep yang berkaitan dengan fisik. Ras memiliki kaitan dengan karakteristik fisik, seperti tekstur rambut atau warna kulit dan mencakup pilihan yang relatif sempit.
Sebagai Warga Negara Indonesia yang berlatar beda suku, agama, dan beda antar golongan. Namun, berbicara ras, itu berkaitan dengan karakteristik fisik, seperti tekstur rambut atau warna kulit, tinggi badan, besar badan, perbedaan hidung mancung, bentuk pipi, senyum.
Lebih spesifik lagi yakni, warna rambut, warna kulit, ditatoan atawa henteu, ditindik atawa henteu (ieu asup bahasan ras teu sih).
Istilah ras mencuat pada abad ke-18. Istilah tersebut bertahan hingga kini dan menjadi pengetahuan yang kini masih digunakan dalam antropologi forensik (dalam menganalisis sisa tulang), penelitian biomedis dan kedokteran berdasarkan asal usul.
Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ras adalah golongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik. Ras juga didefinisikan sebagai rumpun bangsa. Ras adalah kategori individu yang secara turun-temurun terdapat ciri-ciri fisik dan biologis tertentu yang khas.
Selain itu dilansir dari Ensiklopedia Britannica, ras adalah gagasan bahwa spesies manusia dibagi menjadi kelompok-kelompok berbeda atas dasar perbedaan fisik dan perilaku yang diwariskan. Ras biasanya dikaitkan dengan biologi dan dikaitkan dengan karakteristik fisik, seperti tekstur rambut atau warna kulit dan mencakup pilihan yang relatif sempit.
Seorang ahli antropolog, Banton, bahwa ras adalah suatu ciri peran, perbandingan fisik yang dijadikan kaidah untuk memutuskan peran yang berbeda-beda. Ras dapat diartikan secara fisik dan sosial. Ras secara fisik meliputi kondisi fisik yang tampak, sedangkan secara sosial menyangkut peran dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan.
Sementara, Stephen K.Sanderson memandang ras adalah entitas kelompok atau kategori orang-orang yang mengidentifikasikan diri mereka sendiri, dan diidentifikasikan oleh orang-orang lain, sebagai perbedaan sosial yang dilandasi oleh ciri-ciri fisik atau biologis.
Keberadaan Ras Tanpa Dasar Biologis
Menurut Muliastuti dan Ariesta dalam Jurnal Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta yang berjudul Diskriminasi Ras dalam Film The Help Karya Tate Taylor (Kajian Feminisme), bahwa ras tidak memiliki sangkut paut dengan biogenetis.
Para ilmuwan saat ini berpendapat bahwa ras adalah intervensi budaya yang mencerminkan sikap dan keyakinan tertentu yang diterapkan pada populasi yang berbeda oleh masyarakat barat. Semua manusia termasuk dalam spesies yang sama. Tetapi variasi genetik kecil memicu penampilan fisik yang bervariasi. Perbedaan inilah yang memunculkan konsep ras.
Meskipun manusia sering dibagi menjadi beberapa ras, variasi morfologis sebenarnya tidak menunjukkan perbedaan besar dalam DNA. DNA dari dua manusia yang dipilih secara acak umumnya bervariasi kurang dari 0,1 %. Karena perbedaan genetik ras tidak kuat, beberapa ilmuwan menggambarkan semua manusia sebagai milik satu ras: ras manusia.
Ide tentang “ras” berasal dari para antropolog dan filsuf di abad ke-18, yang menggunakan lokasi geografis dan ciri fenotip seperti warna kulit untuk menempatkan orang ke dalam kelompok ras yang berbeda. Konsep ras tidak hanya membentuk gagasan bahwa ada jenis ras yang terpisah tetapi juga memicu gagasan bahwa perbedaan ini memiliki dasar biologis.
Perbedaan Ras dan Etnis
Ras dan etnis pada umumnya disalahpahami sebagai konsep yang sama. Ras biasanya dilihat secara biologis, mengacu pada ciri fisik seseorang, sedangkan etnisitas dipandang sebagai konstruksi ilmu sosial yang menggambarkan identitas budaya seseorang.
Etnisitas dapat ditampilkan atau disembunyikan, tergantung pada preferensi individu, sementara identitas rasial selalu ditampilkan, pada tingkat yang lebih besar atau lebih kecil. Etnisitas dapat diadopsi, diabaikan, atau diperluas, sedangkan karakteristik ras tidak bisa.
Terkadang ras dan etnis bisa tumpang tindih. Misalnya, orang Jepang-Amerika mungkin akan menganggap dirinya anggota ras Jepang atau Asia, tetapi, jika dia tidak terlibat dalam praktik atau adat istiadat nenek moyangnya, dia mungkin tidak mengidentifikasi dengan etnis, sebaliknya menganggap dirinya orang Amerika. (Disadur dari berbagai sumber).

Comment here