GAYA HIDUPKULINEROPINI

Sensasi Wah! Kopi Sawah

Oleh : Shelby AR

Konsep yang menggabungkan citarasa masa lalu, nuansa alam, arsitektur bangunan mungil ini, tak jauh dari Mako Polres Majalengka

MAJALENGKA – macakata.com – Letaknya seratus meter ke arah dalam dari jalan KH. Abdul Halim, depan Labkesda Majalengka. Di pinggir bengkel dan Alfamart, ada tulisan cukup mencolok Kopi Sawah.

Mobil ukuran Avanza, Rush, Terrios, Strada, Hillux, Pajero dan ukuran mobil sejenis bisa masuk leluasa. Halaman parkirnya cukup luas. Kalau pun berjalan kaki, hanya sekira 30 langkah. Dari jalan raya, dua menit bisa sampai ke pintu gerbang kafe cantik di tengah sawah ini.

Kesan yang ditampilkan kafe Kopi Sawah ini, sebetulnya merupakan gabungan antara kafe, warung makan dan restourant mewah. Bagi yang mau makan, sudah tersedia makanan dengan konsep prasmanan. Ambil sendiri, baik nasi maupun lauk pauknya.

Sebetulnya tidak terlalu “Wah” juga. Namun memasuki area inti Kopi Sawah, dengan desain konsep taman di tengah sawah sungguh terasa, tanpa dinding pembatas, sehingga mata bisa bebas memandang ke area manapun dengan leluasa. Pasar Cigasong dan lalu lintas hiruk pikuk pasar itu terlihat jelas. Kafe Kopi Sawah terasa elegan. Nuansa dulu tinggal di kampung menyejukkan mata sekaligus nostalgia.

Duduk di sini sambil ngopi hideung, atau, memesan minuman jahe dengan gula merah yang per-gelasnya dihargai Rp. 5.000 saja, sudah cukup menyegarkan dan melupakan penat rutinitas kerja. Menu lain sudah ada dalam daftar yang diletakkan dalam kertas berlaminating. Saya bilang wah, sebagai bentuk kekagetan dan heran, sekaligus kagum. Harga menunya sedikit lebih murah dibandingkan dengan harga menu di kafe lainnya. Saya bilang kafe saja, supaya lebih singkat.

Konsep lainnya, air jahe yang ada dalam teko masih tersandar pada hawu. Saya sebut hawu karena memang tak terlihat kompornya. Aroma khas masakan kampung tersaji di sini. Tapi soal rasa, lidah tak pernah berbohong soal rasa makanan. Ada sayur lodeh dengan harga tiga ribu saja, sayur asam, tempe tahu, telur dadar, dan menu sunda lainnya.

Antara meja satu dengan meja lain juga ada jarak. Jangan bayangkan lantai berpualam keramik mewah. Gabungan sapuan semen dengan batu alam, membuat konsentrasi menikmati citarasa menu masakan maupun minuman yang ada di kafe ini terasa lebih alami.

Kafe ini berada tepat di belakang Pengadilan Negeri Majalengka. Sehingga, tak mengherankan jika di sini ada banyak pengunjung bermobil, berjas dan dasi yang mentereng. Juga, ada sejumlah pejabat dan pengusaha.

Di sisi area kafe Kopi Sawah, ada bangunan rumah mungil yang cantik. Kafe ini juga menawarkan pemandangan kolam, lebih tepat balong yang tertata dengan aliran air yang terus mengalir.

Tempat gazebo lebar untuk pertemuan meetings juga sudah tersedia. Di sebelah selatan, ada juga bangunan yang sedikit lagi rampung, dua lantai itu dibuat untuk ruang pertemuan lainnya.

Sepertinya, konsep kafe Kopi Sawah ini akan menjadi trend di kemudian hari. Pelayannya yang ramah cekatan mendatangi pengunjung yang baru duduk. Atau, pelayan kafe itu membiarkan pengunjung mengambil sendiri nasi dan lauk pauknya.

Tak ditemukan tanaman hias yang lagi trend di sekitar area kafe. Hanya ada tanaman tebu, tiga atau empat rumpun. Tanaman serai yang sengaja ditata dan ditanam seperti pagar pembatas antara lantai dengan batas tanah. Ada pemandangan rumah dengan disegn sangat mungil kekinian yang sedap dipandang. Di pintu gerbang, ada bangunan mungil lainnya, dua lantai dengan arsitektur persegi empat, namun tetap nyaman dipandang mata.

Selanjutnya, tampilan konsep arsitektur kafe Kopi Sawah ini lenglang. Di sebelah timur dan utara serta barat, ada hamparan kebun dan sawah. Mungkin, dua tahun lagi akan ada bangunan lain? Entahlah, Majalengka sedang dilirik berbagai investor. Tetapi, konsep kafe yang mengingatkan kembali nuansa dulu dengan kondisi kekinian seperti Kopi Sawah ini, mulai banyak diminati. ***

Penulis adalah penyuka kuliner. Suka baca novel. Pengelola taman baca dan perpustakaan

Comment here